Kisah Jumuah Pemecah Batu Apung di Sirkuit Motocross Lantan

oleh -730 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID Jumuah warga Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara pencari dan pemecah batu apung di Sirkuit Motocross Internasional 459, Kamis sore kemarin.

Batu apung atau yang dikenal masyarakat Sasak dengan sebutan batu kumbung menjadi salah satu sumber penghidupan sebagian warga Dusun Sumeran, Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah.

Warga di sana mendirikan tenda-tenda dengan atap terpal di sekitar Sirkuit Motocross Internasional 459. Mereka mengumpulkan batu – batu apung untuk kemudian dipecah menjadi ukuran yang lebih kecil.
“Perkarung harganya Rp 5.500 rupiah, ” kata pengumpul dan pemecah batu apung, Jumuah alias Amaq Tini kepada jurnalis Koranlombok.id, Kamis sore.

Sempitnya lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan, membuat warga tidak terkecuali Jumuah menjadi pengumpul batu apung. Demikian juga keluarganya.

“Ya kurang lebih seperti ini mata pencaharian kami, kadang yang namanya lapar ini tidak bisa ditunda,” tuturnya.

Baca Juga  Kades Perampuan Sebut Kasus Putus Sekolah Karena Lingkungan

Berada di tanah milik negara yang sebelumnya dikelola oleh sebuah perusahaan perkebunan, kegiatan para pengumpul batu apung kerap ditegur oleh petugas. Namun untuk menyambung hidup, mereka nekat untuk menjalani hal tersebut.

Dia menceritakan, biasanya kegiatan ini dimulai sekitar pukul 08.00 wita menuju sekitar Sirkuit Lantan menjadi sirkuit kebanggaan Pemerintah Lombok Tengah.
“Biasanya kami selesai setelah Ashar,” ungkapnya.

Jumuah mengaku tidak sendiri, istri dan anaknya juga ikut di tempat ini. mereka menyebar mendirikan tenda di sekitar sirkuit.
Dia mengaku dalam sehari tidak pasti mengumpulkan batu kumbung, paling banyak dapat mengumpulkan batu kumbung sebanyak kurang lebih 13 karung dan dapat mengantongi Rp. 57 ribu rupiah.

Baca Juga  Rannya Bersama Rombongan Tidar NTB Ziarah Makam

“4 atau 5 tahun sebelum ada sirkuit kita sudah mencari batu seperti ini,” katanya.

Katanya, batu-batu apung ini akan dibeli oleh salah satu perusahaan di wilayah Pemepek sebagai bahan baku untuk pembuatan piring dan keramik serta lainnya.
“Setiap hari ada pembeli yang datang menggunakan truck, kadang bisa 400 karung dan dimuat dua kali, satu karung sekitar 30 kilogram batu apung,” tutur pria 60 tahun ini.
Namun diakuinya ada kabar kurang baik dia dengar, mereka akan pindah dalam waktu dekat dari lokasi sekarang karena event kejuaraan motocross tingkat provinsi akan digelar 17 Desember 2022. Bisa dilihat dua alat berat sudah mulai beraktivitas di track sirkuit.

Baca Juga  Penyelenggara Pemilu di Loteng Belum Tes Urine

“Sampai Hari Minggu kami diberi waktu kumpulkan batu batu apung, tempat ini akan dijadikan parkir nanti,” ungkapnya lagi.

Kendati demikian dia bersama warga lainnya akan tetap mengumpulkan batu apung, bahkan akan mencari lokasi lain untuk mengumpulkan batu apung. Ditambahkannya, selain mengumpulkan batu apung, Jumuah dan warga lain Dusun Sumeran juga mendapatkan penghasilan dari pembuatan kasur kapuk, bantal dan guling di musim kemarau biasanya bulan Agustus.

“Tergantung besar, biasanya satu kasur 350 ribu,” singgungnya.(nis)

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Memberikan informasi Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.