Dalang Wayang Sasak di Loteng Merasa Dianaktirikan Pemerintah

oleh -905 Dilihat
FOTO DIKI WAHYUDI JURNALIS KORANLOMBOK.ID Dalang Wayang Sasak dari Lombok Tengah / Lalu Erwan

LOMBOK – Sejumlah Dalang Wayang Sasak yang ada di Lombok Tengah merasa dianaktirikan oleh pemerintah. Pasalnya, sejak lama mereka tidak pernah mendapatkan perhatian apapun dari pemerintah kabupaten.

Selain itu, para Dalang Wayang Sasak juga merasa tidak pernah dipandang pemerintah. Bahkan mereka merasa ada ancaman besar terhadap keberadaan mereka di tengah majunya perkembangan teknologi.

“Contoh di setiap kantor bahkan SD tidak pernah dipampang wayang, apalagi generasi kita bisa kenal wayang,” ungkap Dalang Wayang Sasak asal Desa Puyung, Kecamatan Jonggat, Lalu Erwan kepada jurnalis Koranlombok.id, Selasa (20/6/2023) di Pringgarata.

Baca Juga  Asisten III Loteng Terima Kunker Pemkab Karang Asem

Selama ini kata pria berusia 63 tahun itu, wayang sudah bermasyarakat namun tidak diperhatikan pemerintah. Anehnya, pemerintah malah memberikan sumbangan kepada kecimol dan gendang belek.

 

“Wayang-wayang ini terbangkalai, dianaktirikan tidak diperdulikan,” katanya tegas.

Erwan membandingkan dengan Jawa dan Bali. Di sana pemerintah menyiapkan sekolah wayang sebagai bentuk kepedulian. Tapi di Lombok malah sebaliknya.

Baca Juga  Warga Keluhkan Bau Sampah dari Lombok Epicentrum Mall

Menurutnya, pemerintah condong berpihak kepada orang yang selalu dekat. Tidak melihat keberadaan budaya, apalagi mau dilestarikan.

 

“Kalau dekat dengan pemerintah itu dibantu, saya mohon maaf demi Allah. Terus bagaimana wayang bisa maju, ditutup semua,” sindirnya.

Untuk itu dia berharap kedepan wayang Lombok tumbuh kembali. Ia memastikan ini tergantung dari pemerintah. Jika pemerintah memperhatikan semua itu sangat mudah.

“Sekarang kondisi wayangnya sekarat, dalang masih hidup. Bapak bupati saja kalau kenal wayang Jayeng Rane,” katanya nyindir lagi.

Baca Juga  Seorang Ibu Warga Batujai Terlindas Dump Truck Hingga Tewas

Diceritakannya, dulu dirinya pernah membuat sekolah dalang. Pada saat itu dia bertindak sebagai guru. Semua biaya apapun kebutuhan langsung dirinya yang memodali. Kemudian upacara 17 Agustus anaknya peserta sekolah dalang pun diberikan kesempatan pentas. Sementara pemerintah tidak memberikan apa-apa, demikian juga sekolah.

“Biaya semua dari saya, terus pemerintah bisa apa. Saya begini karena peduli dengan Wayang Sasak,” kata Mamiq Erwan.(dik)

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Memberikan informasi Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.