Tidak Ada Pemerasan di Balai Rehabilitasi, Kapolres Loteng jadi Pengawas

oleh -915 Dilihat
FOTO DIKI WAHYUDI JURNALIS KORANLOMBOK.ID General Manager (GM) Balai Rehabilitasi Yayasan 789 Bersinar, Auzan Shidqi Baley saat menunjukkan dokumen legalitas lembaga, Selasa (11/7/2023) di Praya.

LOMBOK – General Manager (GM) Balai Rehabilitasi Yayasan 459 Bersinar, Auzan Shidqi Baley memberikan klarifikasi ke publik. Dia menegaskan, tidak ada pemerasan yang terjadi di balai rehabilitasi kepada pasien atau warga pengguna narkoba. Dalam klarifikasi, ia menegaskan jika Kapolres Lombok Tengah AKBP Irfan Nurmansyah hanya menjadi tim pengawas.

“Jadi saya mau klarifikasi soal pemberitaan itu, jadi tidak benar ada pemerasan. Sama pak Kapolres juga masuk dalam struktur bukan kapasitas sebagai kapolres melainkan atas nama pribadi. Kapolres juga ngak ada honor kok di tempat kami,” tegasnya kepada awak media, Selasa (11/7/2023) di Praya.

Baca Juga  Jenazah Santriwati Dipulangkan ke NTT, Orangtua Tidak Terima Kedatangan Pihak Ponpes

Selain itu, pihaknya menegaskan rumah rehabilitasi ini tidak pernah menerima bantuan dari pemerintah. Murni modal pribadi.

“Tidak benar kalau ada isu begitu di luar. Kami juga beroperasi Mei 2023,” bebernya.

Dalam struktur kepengurusan, GM ini membenarkan nama kapolres dan Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri masuk. Kapoles sebagai ketua pengawas dan bupati ketua pembina.

“Sebelum mau masuk di Lombok Tengah, kami pertama ijin dan minta restu ke kapolres dan bupati,” ceritanya.

Baca Juga  6 Tahun Warga Lingkungan Wakan Leneng Tidak Nikmati Air PDAM

Sementara kantor balai rehabilitasi sekarang dengan pinjam pakai aset milik daerah di jalan raya Praya – Mantang di Desa Aikmual, Kecamatan Praya. Pinjam pakai diberikan selama 3 tahun.

“Kami renovasi pakai anggaran sendiri, kondisi tempat itu cukup banyak kami perbaiki,” ungkapnya.

 

Sedangkan kerjasama rumai rehabilitasi dengan Polres Lombok Tengah, dia memastikan tanpa ada MoU. Begitu juga dengan daerah lain di Lombok. Sehingga saat ini, banyak pasien justru dari luar Lombok Tengah.

“Kalau di Lombok Tengah hanya satu pasien kami, dan ini yang buat ramai kan. Intinya ngak ada pemerasan,” sebutnya tegas.

Baca Juga  UAS ke Lombok, Akan Dihadiri 20 Ribu Jamaah

Jika bicara tarif rehabilitasi di tempat itu, tergantung kondisi pasien. Sama layaknya sebuah rumah sakit. Namun paling tinggi biaya Rp 20 juta.

“Kalau kondisi kurang mampu tinggal buat surat keterangan tidak mampu dari desa, Insya Allah kami bantu. Ini juga teman hanya kami minta 1 juta dan masih rehab sampai sekarang, silakan ditanya aja langsung ini orangnya,” katanya sembari menunjuk pasien.(dik)

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Memberikan informasi Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.