SDN Sondo Lekor Dianaktirikan Pemkab Lombok Tengah

oleh -1082 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID Kondisi plafon sekolah ini, sementara semangat belajar mengajar siswa terlihat di SDN Sondo, Desa Lekor, Selasa (19/7/2023).

LOMBOK – SDN Sondo di Dusun Sondo, Desa Lekor, Kecamatan Janapria dianaktirikan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah. Sekolah yang dibangun tahun 1984 silam ini, sampai 2023 hanya memiliki tiga ruangan kelas. Sementara itu dua ruang kelas yang baru dibangun 1993 silam, merupakan hasil swadaya masyarakat dari program BP3 di Dusun Sondo.

“Sudah tidak layak sebenarnya karena tidak memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) karena luas ruangannya hanya 4 x 6 meter,” ungkap Kepala SDN Sondo, Darna kepada wartawan, Selasa (18/7/2023).

Baca Juga  Diam-diam Terima Siswa Baru, Kepala SDN 4 Praya Dipanggil

Dia menyampaikan, plafon di sejumlah ruang kelas telah jebol dan terancam rubuh. Akhirnya terpaksa disangga dengan bambu, sementara ruang kelas 3 dan 2 yang beratapkan asbes membuat suasana belajar tidak nyaman karena pengap dan panas.

“Terpaksa kita ajak mereka belajar di emperan kelas,” cerita Darna.

Ia menambahkan, sekolah yang dipimpinnya itu sejak awal dirinya mengajar 2002 baru dua kali mengalami renovasi dan hanya memiliki 3 ruang kelas. 1 ruang guru dan 1 ruang perpustakaan yang kini digunakan untuk ruang kelas 1.

Baca Juga  Kades Perampuan Sebut Kasus Putus Sekolah Karena Lingkungan

 

Dibeberkannya, pihaknya telah memanggil konsultan untuk mengukur kerusakan di sekolah, namun belum menjadi perhatian Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lombok Tengah hingga kini.

“Semua sudah diproses bahkan operator telah ikut bimtek, sampai RAB-nya itu sudah jadi dah lama tapi sampai sekarang belum ada,” katanya.

 

Ditegaskannya, pihak sekolah juga telah mengeluarkan biaya untuk membayar konsultan untuk memantau kerusakan sebesar Rp 500 ribu. Sementara dari dinas hanya memberikan janji untuk dilakukan perbaikan.

Baca Juga  WSBK Akan Dihapus, Ketua DPRD Loteng Harap Dikaji Ulang

 

Salah satu dampak dari kondisi gedung sekolah seperti saat ini. Jumlah siswa menurun dari tahun ke tahun. Pada tahun 2018 jumlah siswa 114 orang, sedangkan tahun lalu 22 orang tambahan siswa tapi yang bertahan hanya 18 orang siswa, sementara tahun 2023 yang mendaftar 24 siswa namun kini yang masuk hanya 16 orang. Sehingga total siswa 85 orang.

“Animo masyarakat ini tinggi sebenarnya namun memilih yang jauh karena fasilitasnya lebih bagus,” sebutnya.(nis)

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Memberikan informasi Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.