Kericuhan Voli Putra Porprov NTB, 14 Orang Dilaporkan ke Polresta Lombok Tengah

oleh -3598 Dilihat
FOTO HILMI JURNALIS KORANLOMBOK.ID/ Halaman Depan Mapolres Lombok Tengah.

 

 

LOMBOK – Kericuhan pada final bola voli putra Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026 di GOR Tastura berbuntut panjang. Salah satu wasit pertandingan keberatan dan melaporkan kasus ini ke Mapolresta Lombok Tengah, Sabtu malam 18 Juli 2026.

Dalam kasus itu, setidaknya 14 orang yang terdiri atlet dan ofisial tim voli Kabupaten Dompu dilaporkan ke Polresta Lombok Tengah diduga melakukan aksi kekerasan kepada seorang wasit.

 

Kepala Seksi Humas Polresta Lombok Tengah, IPTU Lalu Brata Kusnadi membenarkan adanya laporan polisi masuk yang dilaporkan oleh seorang wasit bertugas dalam pertandingan malam itu. Pelapor sekaligus korban adalah wasit kedua inisial, MN warga Desa Teruwai, Kecamatan Pujut.

 

“Yang melapor itu korban sekaligus wasit kedua,” ungkap Brata kepada media, Senin, 20 Juli 2026.

Baca Juga  Berpura-pura Beli Emas, Seorang Wanita Kepergok Mencuri di Pasar Jelojok

 

Brata menjelaskan, insiden itu terjadi pada pertandingan final cabang olahraga bola voli putra Porprov NTB 2026 yang mempertemukan tim Lombok Barat melawan Dompu.

 

Kericuhan bermula pada set kedua ketika salah seorang pemain Dompu melakukan smash. Namun, wasit menyatakan pukulan tersebut sebagai pelanggaran (fault) sehingga poin diberikan kepada tim lawan. Keputusan itu memicu protes keras dari para pemain dan ofisial Dompu.

 

Situasi kemudian memanas hingga terjadi pelemparan kursi ke arah wasit dan dugaan aksi pemukulan di dalam lapangan. Akibat kondisi yang tidak kondusif, pertandingan sempat dihentikan sementara.

 

Setelah dilakukan koordinasi antara panitia dan pihak terkait, diputuskan untuk mengganti wasit yang memimpin pertandingan. Laga kemudian dilanjutkan hingga selesai dengan kemenangan Lombok Barat atas Dompu dengan skor 3-1.

Baca Juga  Kisah Muhammad Najib, dari Timses Caleg Kini Dilantik Menjadi Anggota DPRD

Cerita Brata, ketegangan berlanjut setelah pertandingan usai. Menjelang waktu magrib, terjadi cekcok di luar arena pertandingan. Keluarga wasit yang menjadi korban tidak menerima perlakuan tersebut dan memilih menempuh jalur hukum dengan melaporkan dugaan penganiayaan.

 

“Untuk mengantisipasi bentrokan yang lebih luas, polisi mengamankan seluruh atlet dan ofisial tim Dompu yang diduga terlibat. Mereka kemudian dibawa ke Polresta Lombok Tengah untuk menjalani pemeriksaan,” Ujar Brata.

 

 

 

Lanjut Brata, Kepolisian juga sempat memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak. Meski perwakilan tim Dompu telah menyampaikan permintaan maaf secara terbuka, proses hukum tetap berjalan karena laporan telah diterima secara resmi.

Baca Juga  Polisi Usut Kasus Pengusiran dan Pemukulan Saksi Partai Gelora

 

Saat ini, kasus tersebut ditangani Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Lombok Tengah. Penyidik tengah mengumpulkan alat bukti, memeriksa rekaman video pertandingan, serta meminta keterangan sejumlah saksi dan korban.

 

“Dari hasil identifikasi awal melalui rekaman video, terdapat sekitar 14 orang dari pihak Dompu, baik atlet maupun ofisial,” pungkasnya.

 

Salah satu pedagang sekitar GOR Tastura, Jamaludin menceritakan kejadian tersebut terjadi pada saat set kedua karena keputusan wasit.

Kemudian setelah laga, Jamaludin mengungkapkan akibat dari wasit yang dipukul pihak keluarga tidak terima dan berbondong-bondong datang ke lokasi pertandingan.

“Wasit itu dipukul sampai dilempar kursi makanya keberatan pihak keluarganya,” cerita saksi mata.(hil)

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.