LOMBOK — Eks Pimpinan Pondok Pesantren Abul Barokat Wannafahat NWDI Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Ahmad Imanuddin Sumar (AIS) tak bisa memenuhi panggilan kepolisian Polresta dikarenakan jatuh sakit. Hal ini disampaikan kuasa hukum AIS, Yuda Aditya Maatpa saat ditemui halaman di Polresta Lombok Tengah pada Kamis, 24 September 2026.
“Untuk pemanggilan hari ini kami mau mengajukan penundaan karena Abah tidak bisa datang dalam keadaan kurang sehat dan akan ditunda serta juga istrinya dan sopirnya kemungkinan sampai hari Senin, 28 September 2026,” ungkapnya.
Yuda menyampaikan, alasan istri abah belum memenuhi panggilan polisi karena belum mendapatkan pendampingan hukum.
“Kebetulan belum ada pendampingan. Kan tadi baru juga dapat pendampingan, dikasih kuasa kemarin,” katanya.
Adapun upaya hukum yang akan dilakukan sebagai bentuk pembelaan, kata Yuda, pihaknya berencana melaporkan BBC News Indonesia karena dianggap tidak pernah melakukan konfirmasi terhadap kliennya sehingga pemberitaan dinilai sepihak. Pihaknya juga berencana mengambil langkah hukum terhadap Yusron yang disebut sebagai pengumpul informasi dalam kasus tersebut.
“Upaya hukum nanti kami akan konsul dulu, rencananya kami masukkan laporan di Polda dan terkait BBC juga kami akan somasi juga, termasuk nanti kami masukkan ke Dewan Pers terkait pemberitaan yang tidak berimbang dan fokus ke Yusron. Karena kan awal mulanya draf itu kan dari Yusron, yang belum kita tahu kebenarannya, belum ada pengadilan, disebar dulu waktu itu,” ujarnya.
Terkait dugaan kekerasan seksual yang dituduhkan kepada kliennya, Yuda menyampaikan bahwa AIS membantah tuduhan.
“Abah sampai saat ini tetap merasa tidak yakin melakukan kekerasan seksual dan sampai sekarang pun tetap tidak,” katanya.
Yuda menjelaskan, mengenai rekaman suara yang beredar. Menurutnya, rekaman tersebut merupakan bagian dari upaya tabayun dan bukan pengakuan atas tuduhan yang disampaikan.
“Kalau menurut versi Abah, rekaman itu karena bentuk tabayun meminta Yusron untuk menarik teks yang mengandung fitnah terhadap dirinya pada waktu itu. Sehingga memohonlah sampai nangis-nangisan beliau untuk memohon supaya ditarik, jangan sampai ini isu menjadi liar,” ungkapnya.
Sementara terkait bukti percakapan atau chat yang disebut dalam perkara tersebut, Yuda mengaku belum mengetahui secara rinci isi maupun sumber percakapan tersebut.
“Kalau chat kami belum dalami ya, belum tahu. Sampai sekarang saya juga belum pernah lihat chat, chat dari siapa saya juga belum tahu ini, ” pungkasnya.(hil)






