Jejak Datok Bagu, Menolak Jabatan Dunia demi Menjaga Prinsip Hidup

oleh -86 Dilihat
FOTO ISTIMEWA / TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin

 

 

 

LOMBOK — Sosok TGH. Lalu Muhammad Turmudzi Badaruddin atau Datok Bagu merupakan ulama kharismatik asal Lombok, NTB yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia keilmuan, pesantren, dan pengabdian keumatan.

 

Katib Syuriah PWNU NTB, Prof. Dr. H. Adi Fadli, mengungkapkan di balik nama besar Mustasyar PBNU dan pengasuh Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu ini, tersimpan riwayat unik mengenai sejarah pergantian nama Datok Bagu dari Hasan Basri menjadi Muhammad Turmudzi.

 

Dia menceritakan, Datok Bagu lahir pada 1 April 1936  merupakan putra dari pasangan Tuan Guru Badaruddin bin H. Jamaluddin dan Hj. Aminah binti Ridwan di mana saat lahir beliau diberikan nama Hasan Basri oleh ulama besar Lombok, TGH. Muhammad Saleh Hambali Bengkel.

Dia menambahkan bahwa sejak kecil beliau dibimbing langsung oleh sang ayah dan pamannya, H. Seba’un, untuk mempelajari Alquran sejak usia 5 tahun hingga khatam pada usia 6 tahun. Lanjut pendidikan formal di Sekolah Rakyat pada usia 8 tahun serta mendalami ilmu tajwid dan nahwu kepada Tuan Guru Azhar Bagu sebelum nyantri di Pondok Pesantren Darul Qur’an Bengkel pada usia 12 tahun.

Baca Juga  Anggaran Porprov NTB Masih Ada Kekurangan 3,5 Miliar

 

Ketika memasuki usia 18 tahun, Kepala Desa Bagu saat itu yakni, Raden Raisim memohon kepada Tuan Guru Bengkel agar Hasan Basri diperbolehkan pulang ke Bagu setiap sore Kamis hingga malam Jumat untuk memimpin mudzakarah, yang kemudian diizinkan oleh Tuan Guru Bengkel.

“Sebelum Tuan Guru Bengkel mengatakan ia kepada Kepala Desa Bagu, Tuan Guru Bengkel mengijinkan agar Datok Bagu Mudzakarah tiap malam jumat,” ujarnya saat menyampaikan biografi singkat pada saat prosesi pemakaman Datok Bagu, Jumat 16 Oktober 2026.

 

 

Dia memaparkan bahwa selama mengaji di Bengkel, beliau mendalami kitab Tafsir Jalalain serta kitab hadis Al-Adzkar An-Nawawi, di mana saat membaca kitab hadis tersebut beliau sering mendapati riwayat yang diakhiri dengan kalimat haditsun hasanun shahihun rawahut Tirmidzi, sehingga dari momen inilah beliau bernazar untuk menambah namanya menjadi Muhammad Turmudzi jika diberikan kesempatan naik haji.

Baca Juga  Kepala SPPG Praya Bantah Lakukan Pelecehan Seksual Kepada Stafnya

“Setelah saya membaca kitab hadis Al-Adzkar An-Nawawi saya sering mendengar hadir yang diakhiri dengan turmudzi dan saya bernazar untuk menambahkan nama Turmudzi,” katanya.

 

Menurutnya, nazar tersebut terwujud pada tahun 1954 ketika beliau mendapatkan undian untuk berangkat menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah. Katib Syuriah PWNU NTB ini menuturkan bahwa sepulang dari ibadah haji, beliau tidak memberitahukan perubahan namanya secara lisan kepada Tuan Guru Bengkel, melainkan menuliskannya pada sebuah kipas cenderamata dengan tulisan Haji Lalu Muhammad Turmudzi.

“Melihat tulisan di kipas, Tuan Guru Bengkel berkomentar, “Bagus,” sekaligus merestui penggunaan nama tersebut sehingga sejak saat itulah nama TGH Lalu Muhammad Turmudzi resmi melekat pada diri beliau,” tuturnya.

 

Kemudian, sekembalinya dari Makkah dan melanjutkan belajar di Bengkel, beliau menikah dengan Hj. Halimah pada 5 Mei 1962 dan mulai merintis Pondok Pesantren Qamarul Huda di Bagu, Lombok Tengah yang namanya diambil dari tempat pemondokannya semasa di Bengkel.

Baca Juga  Ibu dan Lima Anaknya Dilaporkan ke Polisi, yang Lapor Anak Kandung

 

Prof. Dr. H. Adi Fadli juga menegaskan bahwa sepanjang perjalanan hidupnya, beliau memegang teguh nasehat Tuan Guru Bengkel untuk menjadi “pegawai Allah” sehingga menolak berbagai tawaran jabatan formal seperti pegawai negeri, guru agama SD, DPR, hingga Kepala Peradilan Agama Lombok Tengah demi fokus mengasuh santri dan membimbing umat.

 

Jabatan Organisasi

Pada Nahdlatul Ulama, beliau pernah menjabat sebagai Wakil Rais Syuriyah NU Lombok Tengah (1971), Rais Syuriyah PWNU NTB (1996), hingga Mustasyar PBNU, serta dikenal sebagai Mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah Khalwatiyah dan Mursyid Dalail Khairat.

 

Katib Syuriah PWNU NTB menyebutkan bahwa sebagai penulis dan penahqiq, beliau telah melahirkan berbagai karya keislaman seperti Zadul Ma’ad (2009), Wirid Bagu (2017), Pedoman Praktis Salat Sunnah (2021), Selawat Nabi Penenang Hati (2023), Ahzab (2024), serta mentahqiq kitab karya Tuan Guru Bengkel dan menerjemahkan kitab Nahwu Sufi (2026).(hil)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.