LOMBOK — Sejak gempa tahun 2018 silam. Warga Kampung Sebati, Lingkungan Bukal Malang, Kelurahan Panji Sari, Kecamatan Praya mengalami krisis air bersih. Sampai sekarang belum ada solusinya. Kendati air PDAM jarang mengalir, warga mengaku tetap bayar tagihan air setiap bulan dari perusahaan milik daerah tersebut.
Salah satu warga setempat, Sumiati menceritakan bahwa krisis air bersih sejak gempa melanda wilayah Lombok pada 2018.
“Kemarin sempat nyala sebentar, terus mati lagi. Bisa dikatakan dalam sebulan itu kadang hanya dua kali ada air, kadang juga tidak nyala sama sekali,” ungkapnya kepada media, Rabu 8 Oktober 2025.
Sumiati mengatakan, atas kondisi ini pihaknya telah melaporkan ke pihak PDAM. Belum lama ini, petugas PDAM pun turun langsung untuk melihat kondisi air di wilayah mereka.
Dia menuturkan, bahwa setiap bulan warga tetap membayar air ke PDAM. Sayangnya, warga malah tidak pernah merasakan manfaat dari air yang dibayar. Anehnya, jika jatuh tempo warga tetap dikenakan denda.
“Kalau air bantuan diberikan ini kita gunakan untuk keperluan memasak, minum, dan mandi,” ceritanya.
Lurah Panji Sari Samsul menegaskan, air bersih ini mulai langka sekitar 2 bulanan. Apalagi bagi warga kampung Sebati, Lingkungan Bukal Malang. Mirisnya, air PDAM hanya satu tahun lumayan lancar selebihnya tidak pernah.
“Tidak semua tempat di lingkungan Bukal Malang dan kami juga telah berupaya semaksimal mungkin ke PDAM cuma itu itu aja rupanya, kami sudah melapor dari tahun tahun kemarin,” ungkapnya via ponsel kepada jurnalis Koranlombok.id.
Samsul menuturkan, pemerintah kelurahan sedang menunggu jawaban dari PDAM terkait surat yang sudah dilayangkan.
“Kita mau pasangkan sumur bor, tapi tidak ada dana dan kami juga sudah melaporkan tahun kemarin ke BWS dengan membawakan proposal cuma jawabannya untuk anggaran 2026. Kami lansung ke balai besar BWS di Grimak,” ceritanya.
Lurah berharap supaya secepatnya ada jalan keluar atas masalah ini. Pihak PDAM juga harus mengatasi masalah yang sudah bertahun-tahun terjadi.(hil)





