LOMBOK – Cerita miris datang dari Kepala SDN Jangka yang terletak di Dusun Jelitong, Desa Pendem, Kecamatan Janapria, Lombok Tengah H. Darma. Dia menceritakan rela berutang sebesar Rp 12 juta untuk memperbaiki sarana dan prasarana sekolah yang kurang mendapat perhatian dari Pemkab Lombok Tengah.
Dimana untuk memplester tembok keliling sekolah, ia membeli genteng untuk memperbaiki atap ruang perpustakaan, material tanah urug dan pasir untuk membangun kembali tembok yang telah ambruk.
Selain itu juga dengan dibangunnya tembok baru bertujuan agar batas tanah milik sekolah tidak diklaim oleh masyarakat.
“Dulu dimana-mana sekolah tidak ada permasalahan tanah, tapi sekarang dimana-mana ada permasalahan tanah. Saya cuma mau mengamankan aset sekolah dan tidak ada tujuan lain,” tegas H. Darma kepada media, Jumat (1/12/2023).
Darma menuturkan, saat dirinya masih menjadi pengawas sekolah, batas gedung sekolah dengan rumah warga masih ada jarak sekitar 1,5 meter. Namun semakin lama bangunan milik masyarakat semakin mepet hingga genteng gedung lebih menjorok ke luar tembok keliling.
Sementara itu untuk membayar utang tersebut, dirinya menyisihkan dari gaji yang diterimanya setiap bulan dan terkadang dibantu melalui urunan guru serta wali murid seikhlasnya.
Selain itu plafon, jendela, dan atap di ruang kelas 1, 2 dan 3 serta ruang perpustakaan telah rusak dan dikhawatirkan akan ambruk karena rapuh dimakan rayap.
Darma yang baru 7 bulan menjadi kepala sekolah menambahkan, kondisi itu sudah cukup lama sekitar 5 tahun.
“Begitu saya pertama kali datang, saya belikan bambu untuk menyangga plafon di ruang kelas anak-anak,” ceritanya.
Ia sebelumnya telah melakukan pengajuan perbaikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lombok Tengah, namun pihak Disdik hanya menyarankan perbaikan laporan Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Sementara itu pihaknya telah mendatangkan konsultan teknik untuk mengukur kerusakan sekolah, namun hingga saat ini belum ada perbaikan. Padahal sebelumnya sejumlah pihak di Dikbud menjanjikan SDN Jangka mendapat perbaikan segera.
“Nggak pernah saya dijawab selain diminta perbaiki Dapodik, akhirnya terakhir saya undang pengawas kesini untuk lihat kondisi ruangan supaya membantu kami bersuara,” pungkasnya.(nis)





