Oleh: Utari Nur Ilahi (Mahasiswa UIN Mataram)
FESTIVAL bau nyale adalah tradisi tahunan masyarakat Sasak di Lombok, Tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi. Perayaan ini bukan sekadar ritual menangkap cacing laut (Nyale), akan tetapi mengandung nilai budaya, mitos, dan filosofi yang kaya akan makna. Menurut legenda, festival ini berkaitan dengan kisah Putri Mandalika, seorang putri yang memilih mengorbankan dirinya ke laut, pengorbanan ini demi menghindari pertumpahan darah akibat perebutan cinta para pangeran. Konon, Nyale yang muncul di pantai adalah jelmaan sang putri, yang kembali untuk memberikan berkah kepada masyarakatnya.
Tradisi bau nyale adalah upacara tahunan yang dilakukan oleh masyarakat Lombok, terutama di bagian selatan pulau, untuk menangkap cacing laut yang dikenal sebagai nyale. Upacara ini biasanya dilaksanakan pada tanggal 20 bulan ke-10 dalam penanggalan tradisional Sasak, yaitu sekitar bulan Februari atau Maret dalam kalender Masehi. Nyale memiliki ciri-ciri khusus, yaitu kemunculannya yang hanya terjadi setahun sekali, biasanya pada malam hari sebelum tanggal 20 bulan ke-10. Bentuknya menyerupai cacing laut dengan warna yang bervariasi, seperti hijau, kuning, dan oranye. Selama tradisi bau nyale, masyarakat berkumpul di pantai-pantai selatan Lombok, seperti Pantai Seger di Kuta, untuk menangkap nyale. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap legenda Putri Mandalika serta sebagai upaya memastikan hasil pertanian yang melimpah. Masyarakat percaya bahwa nyale membawa berkah bagi mereka yang menghargainya.
Masyarakat percaya bahwa nyale adalah jelmaan rambut Putri Mandalika. Putri cantik itu menceburkan diri ke laut untuk menghindari konflik antara para pangeran yang memperebutkannya. Selain menangkap nyale, masyarakat juga mengadakan berbagai upacara adat dan pertunjukan budaya, seperti Gendang Beleq dan Presean, yang menambah kemeriahan acara. Sebagai simbol dari kisah Putri Mandalika, masyarakat Sasak turun ke pantai untuk menangkap nyale, yaitu cacing laut yang muncul di permukaan air. Aktivitas ini memiliki makna mendalam karena menggabungkan unsur kepercayaan, penghormatan terhadap alam, serta rasa solidaritas sosial antar masyarakat.
Berdasarkan perspektif budaya, bau nyale mencerminkan kearifan lokal dalam menjaga hubungan antara manusia dan alam. Tradisi ini bukan hanya menjadi sarana pelestarian mitos, tetapi juga mengajarkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap lingkungan. Secara ekonomi, festival ini menarik wisatawan, memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Namun, dalam era modern, tantangan muncul dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan eksploitasi komersial. Festival yang semakin populer berpotensi kehilangan esensi tradisionalnya jika tidak dikelola dengan bijak. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat dan pemerintah untuk tetap menjaga nilai-nilai asli festival ini agar tidak hanya menjadi sekadar atraksi wisata, tetapi tetap menjadi warisan budaya yang sarat makna. Festival bau nyale bukan hanya perayaan, tetapi juga refleksi dari identitas budaya dan kearifan lokal yang patut dijaga. Lebih dari sekadar mitos, festival ini adalah warisan yang mengajarkan tentang cinta, pengorbanan, dan hubungan harmonis antara manusia dan alam.





