UNAIR Gelar Pelatihan Deteksi Dini dan Pencegahan Preeklamsia di Lotim

oleh -719 Dilihat
FOTO ISTIMEWA / Foto bersama pada kegiatan Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Dikes Lombok Timur.

 

LOMBOK – Dalam rangka menekan angka kematian ibu (AKI) yang disebabkan oleh preeklamsia. Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan Lombok Timur menyelenggarakan pengabdian masyarakat bertajuk “Optimalisasi Kompetensi Bidan dalam Deteksi Dini, Asuhan Kebidanan, dan Upaya Preventif Preeklamsia Menggunakan Bahan Alam”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Airlangga, dengan dukungan penuh pendanaan dari UNAIR tahun 2025. Kegiatan dua hari (24-25 Agustus 2025) ini diikuti puluhan bidan dari 35 puskesmas se-Lombok Timur.

 

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, H. Pathurrahman secara resmi membuka acara tersebut. Pada kesempatan itu, Kadis memberikan apresiasi pada kegiatan ini. Dia menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas bidan sebagai ujung tombak kesehatan ibu.

 

“Pengabdian masyarakat seperti ini sangat baik, terutama dalam upaya keras kami menurunkan kematian ibu dan bayi. Di sini dibahas berbagai kendala, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan, termasuk pemanfaatan bahan alam,” katanya.

Baca Juga  A day Two Children Get Married in West Nusa Tenggara

 

Kaprodi Kebidanan FK UNAIR dan narasumber utama, Dr.dr. Budi Prasetyo, Sp.O.G., Subsp Obginsos., menerangkan tujuan kegiatan ini adalah untuk menjalin kerjasama dalam menurunkan kejadian preeklamsia atau hipertensi dalam kehamilan.

 

“Preeklamsia merupakan penyebab utama kematian ibu di Indonesia maupun di dunia. Perkembangan ilmu kini memungkinkan penyakit ini dideteksi sejak dini dengan mengetahui faktor risikonya,” jelas Budi.

 

Faktor risiko tersebut, antara lain, adalah ibu dengan berat badan lebih dan kehamilan pertama di atas usia 35 tahun.

“Semua faktor ini sebenarnya sudah tercantum dalam buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) sebagai program skrining dini. Dengan deteksi dini, kita dapat memberikan intervensi seperti Aspirin dosis rendah untuk mencegah kekentalan darah dan suplementasi kalsium,” tambahnya.

 

Ditambahkan ketua pelaksana kegiatan, Astika Gita Ningrum, M.Keb., Dia menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang khusus untuk meningkatkan kapasitas bidan dalam menghadapi tantangan preeklamsia di tingkat pelayanan primer. “Kami berkomitmen untuk terus mendukung peningkatan kompetensi bidan sebagai ujung tombak kesehatan ibu,” katanya.

Baca Juga  MIXUE Halal certificate in Lombok Questionable

 

Pelatihan ini menghadirkan sejumlah pakar multidisiplin. Prodi Kebidanan FK Unair juga menggandeng narasumber dari Fakultas Farmasi, Dr. apt. Zamrotul Izzah, S.Farm., M.Sc., yang mengulas pemanfaatan bahan alam lokal seperti kelor, tomat, dan alpukat sebagai intervensi gizi untuk pencegahan preeklamsia. Dr.dr. Budi Prasetyo, Sp.O.G., Subsp Obginsos., memaparkan strategi skrining preeklamsia di fasilitas kesehatan primer. Sementara itu, Astika Gita Ningrum, M.Keb. dan Andriyanti, S.Keb., Bd., M.Keb. membahas masing-masing tentang asuhan kebidanan dan teknis penggunaan MgSO₄ untuk penanganan kegawatdaruratan.

 

Materi selanjutnya dipraktikkan melalui simulasi kasus yang dipandu Dr. Dewi Setyowati, S.Keb., Bd., M.Ked.Trop. Hasilnya sangat positif, dimana semua kelompok peserta dapat menyelesaikan kasus dengan baik sesuai materi yang sebelumnya diberikan oleh para narasumber, menunjukkan peningkatan pemahaman dan keterampilan praktis dalam identifikasi gejala dan penatalaksanaan awal preeklamsia.

Baca Juga  Berikut 10 Trend Warna Baju Lebaran 2024

Dr. Budi dalam kesempatan tersebut juga mengapresiasi potensi bahan alam di Lombok Timur.

“Bahan-bahan seperti alpukat dan daun kelor adalah penunjang yang secara literatur sudah terbukti. Ini hanya tambahan, sementara obat utama dari tenaga kesehatan tetap harus diberikan,” tegasnya.

Yang terpenting, menurutnya, adalah deteksi dini yang dapat dilakukan tidak hanya oleh tenaga kesehatan, tetapi juga oleh kader PKK, keluarga, bahkan ibu sendiri.

“Jika ditemukan risiko, maka harus segera mendatangi puskesmas,” pesannya.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kompetensi teknis bidan, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi antara tenaga kesehatan, akademisi, dan pemerintah daerah untuk menciptakan pelayanan kesehatan ibu yang lebih berkualitas dengan memanfaatkan potensi lokal.(red)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.