Disperindag Tidak Tahu Penyebab Gas Elpiji 3 Kg Langka di Lombok Tengah

oleh -1571 Dilihat
FOTO ANIS JURNALIS KORANLOMBOK.ID Seorang buruh saat menurunkan tabung gas elpiji 3 kg dari atas truk di wilayah Karang Bulayak, Praya, Lombok Tengah, Rabu (28/12) siang.

 

 

LOMBOK – Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Lombok Tengah, Raden Roro Sri Mulyaningsih mengaku tidak mengetahui pasti apa penyebab sehingga gas elpiji 3 kg langka akhir-akhir ini.

Di tengah situasi seperti ini, Rorok mengaku pihaknya telah menerbitkan Surat Perintah Tugas (SPT) untuk memantau situasi di lapangan.

“Kita sudah membuat SPT mulai hari ini dan kita juga belum tahu detail penyebab kelangkaan. Kepala dinas sudah memberi perintah kepada bidang perdagangan untuk turun mengecek ke agen, pangkalan, dan beberapa sampel pengecer terkait kelangkaan,” ungkapnya kepada media, Rabu 17 September 2025.

Baca Juga  Begini Cara Pemkab Lombok Timur Pastikan Hewan Kurban Sehat

 

Roro menjelaskan, harga jual gas melon saat ini bervariasi. “Ada yang jual 20 ribu, 22 ribu bahkan sampai 30 ribu. Teman-teman juga sudah turun untuk mengecek penyebab kelangkaan,” tegasnya.

 

Menurut Roro, kelangkaan kemungkinan besar terjadi karena penggunaan secara bersamaan oleh masyarakat. Terlebih lagi situasi sekarang momen Maulid dan kegiatan pertanian seperti, oven tembakau serta lain sebagainya.

Sekdis menambahkan, sektor pertanian memang memiliki alokasi tahunan untuk penggunaan gas melon sebab telah diusulkan setiap tahun.

“Baik pertanian, nelayan, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Pedagang Kaki Lima (PKL), kemudian rumah tangga miskin sesuai Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebenarnya ini penggunaan di waktu yang sama disertai tingginya permintaan,” dalihnya.

Baca Juga  Wabup Tegaskan Kesiapan Pemkab Lombok Tengah Mendukung Sekolah Rakyat

 

Roro menyebutkan, dinas sudah mengonfirmasi ke Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) dan disampaikan distribusi tetap berjalan normal.

“Mereka mengisi tabung setiap hari dengan jumlah yang sama. Distribusinya pun tetap. Jadi, untuk sementara, asumsi kita adalah penggunaan yang sama disertai permintaan yang tinggi,” katanya lagi.

 

Terkait harga eceran tertinggi (HET), Roro menegaskan bahwa harga resmi di pangkalan tidak berubah. Dia menyebutkan permainan harga ada di pengecer.

Baca Juga  Dam Mujur Isu Musiman, Dewan Yek Agil: Tidak Pernah Dibahas di Provinsi

“Kalau pangkalan tidak dipihak kami, kemungkinan nanti kami akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait agar pangkalan yang memiliki pengecer di bawahnya memberikan peringatan terkait harga,” tegasnya lagi.

 

Selama ini, pihaknya mengklaim tetap melakukan pengawasan sampai di pangkalan. Sedangkan laporan disampaikan oleh pihak agen, SPBE, maupun Pertamina.

“Pada posisi pengecer ini sebenarnya tidak ada dalam aturan. Sekarang masyarakat dalam pembelian harus menggunakan KTP. Sebenarnya pangkalan ini biasanya sudah memiliki langganan. Kemudian langganan itu juga sudah melaporkan bahwa pembelian menggunakan KTP ini,” yakinnya.(hil)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.