Pimpinan Ponpes Klarifikasi Kasus Dugaan Pembakaran Tiga Santri

oleh -3008 Dilihat
Muhammad Muzakki Rahmatullah

 

 

LOMBOK – Pimpinan Pondok Pesantren Rusydah NW Sengkol 2, Desa Aik Darek, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Muhammad Muzakki Rahmatullah angkat bicara di tengah ramainya pemberitaan tiga santri menjadi korban dugaan pembakaran oleh kakak kelasnya.

Dalam musibah ini, pimpinan Ponpes menegaskan tidak lepas tangan atas kejadian tersebut dan mengaku kerap memberikan bantuan pada keluarga korban.

 

“Saya tegaskan sekarang sampai detik ini dari pihak Ponpes tidak pernah lepas tangan, jadi terbukti pertama kali kami yang bawa ke Puskesmas Aik Darek dan ke Rumah Sakit bersama orangtuanya,” tegasnya kepada media, Kamis 4 Juni 2026.

Kata pimpinan Ponpes, terduga pelaku R sempat ditahan di Ponpes untuk dimintai keterangannya dan didamaikan antara pihak pelaku dan pihak korban korban dan selanjutnya Ponpes memberhentikan R sebagai peserta didik.

Baca Juga  Ada Buaya, Nelayan Diimbau Tak Beraktivitas di Teluk Bumbang

“Jadi selama korban di rumah sakit kami selalu datang menjenguknya, kalau saya tidak bisa saya suruh guru guru lain yang menjenguk dan setiap kali menjenguk kami bawakan bantuan berupa uang dan makanan, termasuk ketika di rumahnya, kami arahkan mencari dokter ataupun belian,” katanya tegas.

 

Pimpinan Ponpes menampik ada denda yang diberikan kepada wali santri sebesar Rp 7 juta jika menceritakan kasus yang dialami sebenarnya, ia mengatakan tidak pernah sama sekali  melarang santri ataupun wali santri untuk tidak menceritakan kasus tersebut kepada siapapun.

Baca Juga  Anggaran Penyebab Pengawasan Lemah Perusahaan Bisa Keruk Bukit di Mandalika

Soal adanya laporan pihak keluarga ke Mapolres Lombok Tengah, ia mempersilakan karena hak mereka. Sementara itu soal adanya salah satu korban yang meninggal dunia. Ia berdalih ini terjadi jauh dari waktu kejadian. Pihaknya menyebut santri meninggal dunia karena penyakit lain.

 

“Saya dengar sudah sempat sehat bisa main hp tetapi terakhir saya dengar dia masuk ruang isolasi Rumah Sakit dan akhir meninggal, kami berdua ke sana dan disitu ibunya cerita kalau dia mencret dan ada penyakit lain kata dokter,” ceritanya.

 

Sementara itu dirinya membantah sebelumnya ada penyekapan para korban oleh terduga pelaku di ruangan. Pimpinan Ponpes menanyakan kenapa harus ruangan itu, tujuan agar tidak diketahui oleh pengasuh.

Baca Juga  Menko Tepis Program Pangan untuk Kepentingan Pemilu 2024

 

Setelah insiden tersebut, dirinya langsung membawa korban ke Puskesmas Aik Darek dan sempat juga membawakan belian atau dukun untuk mengobati mereka.

Soal keseharian pelaku R, kata Muzakki, terlihat seperti santri pada umumnya. Tapi kerap sekali melanggar aturan pondok, diakuinya juga R sering bermain membakar barang di ruang kelas dan kantor PAUD. R diakuinya sempat mendapatkan hukuman dan tidak menyangka menyimpan dendam berujung aksi pembakaran tersebut.

 

“Ya hanya diam kelihatan sekali waktu menangis, tetapi dia boleh kita bilang sempat akan ganti rugi karena merasa bersalah,” tuturnya.(nis)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.