LOMBOK – Ratusan wali santri menjemput anak mereka dari Asrama Pondok Pesantren (Ponpes) Abul Barokat Wanafahat NWDI di Desa Bunkate, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah menyusul pemberitaan dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan pimpinan Ponpes.
Seorang wali santri, Ismail mengaku menjemput putranya di Kelas XI Madrasah Aliyah karena khawatir dengan kabar yang santer mencuat saat ini. hal ini dapat mengganggu psikologis dan proses belajar anaknya.
“Saya khawatir mental dan psikologis anak jadi terganggu, kalau masalah dipindahkan atau tidak nanti kita lihat dulu perkembangan dari kabar ini, mudahan tidak benar,” ungkapnya kepada Koranlombok.id, Selasa 22 September 2026.
Ismail menyampaikan, nanti ia akan meminta putranya untuk belajar sementara waktu di rumah. Sementara barang yang akan dibawa pulang berupa buku, kitab – kitab dan pakaian. Ia berharap atas masalah ini ada klarifikasi dari pimpinan Ponpes.
Hal yang sama dikatakan Susanti, dia menjemput putrinya yang masih duduk di Kelas XI MA karena merasa khawatir atas tindakan dugaan pelecehan seksual.
“Khawatir, shock banget, wali santri jadi trauma,” katanya.
Setelah ini, dia mempersilakan anaknya memilih lembaga pendidikan tempat belajar selanjutnya demi masa depan putrinya.
Di tempat yang sama, Ketua Komite Yayasan Ponpes Abul Barokat Sahman menegaskan pihaknya terpaksa memperbolehkan para santri untuk pulang karena kondisi sekarang ini.
“Kita batasi sampai hari Kamis,” katanya
Jumlah santri di Ponpes ini sekitar 800 orang. Santri berasal dari Lombok, NTT hingga Kalimantan. Sementara alasan para wali santri memulangkan anaknya, ia enggan mau menjawab.
“Saya tidak berani menanggapi, saya merasa percaya dan tidak lah seperti itu, kami menanggapi gejolak biar kondisi lebih baik,” pungkasnya.(nis)





