LOMBOK – Lalu Badarudin kembali mencalonkan diri sebagai Calon Kepala Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah pada ajang pemilihan kepada desa serentak pada 29 Oktober 2026.
Pria yang sebelumnya sempat menjabat Kades Kuta tahun 2013 mengatakan, keinginannya untuk maju lagi karena melihat pembangunan yang ada di Desa Kuta yang saat ini terlihat sudah maju bisa menjadi lebih maju kembali.
Selain itu dirinya juga menyoroti kondisi Desa Kuta pada saat musim hujan yang belakangan ini kerap mengalami banjir. Badar ingin mengatasi hal tersebut seperti saat dirinya dulu menjabat dengan melakukan pengerukan sejumlah sungai yang dangkal, sedangkan material hasil pengerukan digunakannya untuk melakukan pengerasan jalan – jalan desa.
“Jika saya tepilih dan mendapat kepercayaan kembali insyaallah hal itu saya prioritaskan, kami akan buka gotong – gorong yang tertutup karena tidak bisa dibuka karena ada sampah, alhamdulilah saat saya menjabat banjir di Desa Kuta dari 100 persen menjadi 30 persen,” katanya dalam wawancara dengan Koranlombok.id, pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Jika dirinya terpilih kembali, ia juga akan mengatasi masalah kebersihan lingkungan mengingat Desa Kuta sebagai wilayah pariwisata, mengatasi persoalan parkir dan pungli yang saat ini ramai di sosial media dan menyebabkan wisatawan kurang merasa nyaman.
“Mungkin itu dalam agenda saya nanti, bukan untuk melarang atau meniadakan tetapi untuk menata posisinya,” ucapnya.
Selain itu pihaknya akan membuat konektivitas antar dusun melalui akses jalan yang akan dibuat, dirinya mencontohkan saat dirinya menjabat dahulu sempat membuka akses jalan menuju Dusun Merendeng yang dahulunya merupakan banyak areal persawahan saat ini pesat untuk pembangunan vila dan hotel baru.
Sementara itu belakangan di Desa Kuta muncul tambang emas ilegal, terkait hal itu jika dirinya terpilih ucap Badarudin apapun resiko dirinya akan bekerjasama dengan aparat penegak hukum (APH) serta Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah serta pihak lainnya untuk melakukan penutupan. Hal tersebut juga ucapnya karena penolakan juga kerap disampaikan oleh masyarakat dalam kesempatan musyawarah sebelum – sebelumnya.
Dirinya juga menegaskan saat ini sejumlah warung dan lapak – lapak tempat istirahat para penambang ilegal tersebut sudah dibongkar oleh masyarakat, namun dirinya kedepan tidak tau soal pemantauan yang dilakukan kedepan.
Soal lapangan kerja di Desa Kuta hampir semua ucapnya memiliki pekerjaan dan penghasilan sendiri dan saat ini sekitar 80 persen masyarakat diketahui memiliki kemampuan berbahasa asing dan terserap bekerja di sektor pariwisata. Kendati demikian Badarudin menyoroti segelintir masyarakat yang masih berprofesi sebagai nelayan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap terutama di Dusun Kuta II dan Dusun Kuta III.
Hal tersebut karena mereka menempati lahan milik PT ITDC dan sementara waktu pindah ke pinggir pantai dan merupakan wilayah yang tidak diperbolehkan dan membahayakan, terkait hal ini ucap Badarudin jika dirinya terpilih sebagai Kepala Desa masyarakat nelayan tersebut akan didata dan akan bekerjasama dengan Pemda Lombok Tengah serta ITDC untuk memperhatikan relokasi tersebut. Soal hal ini dirinya sebagai perwakilan masyarakat telah melapokan pada Bupati terkait kondisi tersebu dan meminta agar Pemda bisa menyiapkan lokasi relokasi yang tidak jauh dari pantai.
“Seperti di Dusun Kuta III itu ada 20 Kepala Keluarga yang menempati lahan ITDC dan tanah itu sekitar 17 are luasnya sudah diincar oleh investor, nah kalau begitu mau bagaimana lagi mereka tidak punya tempat dan tidak punya tanah,” ucapnya.
Dirinya menegaskan para nelayan tradisional tersebut merupakan daya tarik pariwisata dan agar mata pencaharian mereka tidak hilang, jika terpilih ucap Badarudin dirinya mengusulkan kepada Pemda dan meminta kerjasama dengan ITDC agar relokasi mungkin bisa dilakukan di sebelah barat Hotel Indah yag kosong dan nantinya lokasi itun ditata khusus untuk nelayan.
Kemudian sungai yang ada di sekitar lokasi itu nantinya bisa saja diperlebar agar perahu -perahu kecil milik nelayan bisa masuk semua dan tidak mengganggu tamu yang ada, dirinya menceritakan soal hal tersebut disambut baik oleh Bupati Lalu Pathul Bahri namun dirinya diminta untuk fokus menghadapi Pilkades dahulu.
Sementara itu soal hal yang selalu muncul jelang event Moto GP dan selalu disorot oleh dunia internasional soal klaim lahan milik warga yang belum dibayar, soal hal ini ucapnya jika nantinya terpilih menurutnya masyarakat sebenarnya hanya ingin melakukan sanding data antara ITDC dengan warga.(nis)





