Penulis: Yati Ratmita Mahasiswa UIN Mataram
Pakaian adat sasak menunjukkan kearifan lokal suku sasak. 266 sekolah di Nusa Tenggara Barat mengikuti program Sabtu Budaya. Program Sabtu Budaya tidak berlangsung di semua sekolah. Program Sabtu Budaya terus dilakukan di sekolah yang aktif. Siswa diajarkan pentingnya pakaian adat Sasak, sebagai identitas daerah melalui kegiatan Tata Cara Berbusana Sasak
Program Sabtu Budaya adalah inisiatif kreatif yang dapat diterapkan di sekolah.Ini membantu anak-anak belajar menghargai budaya lokal sejak kecil. Generasi muda diajak untuk mengenal, memahami, dan ikut serta melestarikan berbagai tradisi dan kebiasaan lokal melalui aktivitas ini. Di era modern saat ini, budaya daerah mulai tergeser oleh budaya luar yang lebih dominan. Oleh karena itu, Sabtu Budaya dapat menjadi jembatan agar generasi muda tidak melupakan akar budaya mereka sendiri.
Selain itu, Sabtu Budaya memungkinkan siswa berpartisipasi dalam kesenian daerah, seperti tari tradisional, permainan tradisional, hingga mengenakan pakaian adat. Pengalaman langsung menumbuhkan rasa bangga dan memiliki terhadap budaya lokal. akan tumbuh secara alami. Kegiatan ini mendorong kreativitas siswa dalam melestarikan budaya tradisional. Kepala sekolah melengkapi guru yang mampu njaga budaya Sasak lokal. Kegiatan ini mendorong kreativitas siswa dalam melestarikan budaya tradisional. Kesenian penting untuk menjaga budaya Sasak dan menarik minat siswa.
Namun, agar Sabtu Budaya memiliki dampak yang lebih besar, sekolah harus bekerja sama dengan komunitas budaya dan seniman lokal, serta melibatkan orang tua. Oleh karena itu, Saturday Cultural menjadi lebih dari sekadar acara seremonial; itu menjadi upaya nyata untuk mempertahankan warisan budaya. Cara modern untuk melestarikan adat secara menyenangkan dan mendidik bagi generasi muda. Ini menunjukkan bahwa seni tidak rusak. Kita takut kehilangan budaya dan kehilangan generasi muda dari kekayaan lokal pada masa depan.







