LOMBOK – Anggota DPRD Lombok Tengah, Muhalip meminta Pemkab gerak cepat (Gercep) dalam mengatasi penyakit mulut dan kuku (PMK) di Dusun Karang Ide I, Desa Bilebante, Kecamatan Pringgarata.
Diketahui ada 15 ekor sapi milik warga yang sempat terpapar PMK, terkait hal ini kata Muhalip, pemerintah daerah harus segera berupaya untuk menaganinya agar virus tersebut tidak semakin meluas.
“Dinas Pertanian harus segera turun lapangan untuk mengecek semua ternak yang teridentifikasi penyakit mulut dan kuku diikuti dengan penyembuhannya,” katanya kepada jurnalis koranlombok.id, Rabu (14/5/2025).
Sementara itu dampak virus PMK diungkapkan Muhalip, bisa merugikan para peternak yang menggantungkan ekonominya melalui ternak sapi. Terlebih mendekati momen idul adha yang biasanya kebutuhan masyarakat untuk hewan kurban cukup tinggi.
Ketua DPC Partai Gerindra Lombok Tengah ini mengimbau masyarakat yang hewan ternaknya terkena dampak virus untuk segera melaporkan ke petugas agar segera ditangani.
Terpisah ditemui jurnalis koranlombok.id, Kepala Bidang Medis Veteriner Dinas Pertanian Lombok Tengah, Firman Hidayatullah mengatakan dari 15 ekor sapi milik warga Desa Bilebante, 12 ekor sudah terlihat membaik sedangkan tiga ekor lainnya masih mengalami gejala namun masih memiliki nafsu makan.
Firman meminta agar masyarakat tak perlu khawatir terkait gejala PMK terhadap hewan ternak, hal tersebut dikarenakan kasus kematian sapi akibat virus PMK presentasenya sangat kecil hanya satu sampai tiga persen dari jumlah ternak yang terinfeksi.
“Memang angka kesakitannya tinggi bisa mencapai 100 persen tapi bisa kita obati dan insyaallah bisa kita sembuhkan,” yakinnya.
Dengan pengalaman menangani kasus PMK sejak tahun 2021, dirinya mengatakan masyarakat tak perlu panik karena tingkat kematian saat itu hanya 30 ekor dan kebanyakan merupakan sapi anakan dibawah satu bulan yang tidak bisa menyusu pada induknya karena terjangkit gejala PMK. Namun solusi terkait itu ucapnya bisa digantikan oleh susu pengganti.
“Kematian ini kan penyebabnya kepanikan aja, pokoknya gak panik kemudian lapor ke petugas insyaallah bisa disembuhkan,” yakinnya lagi.
Untuk vaksinasi pihaknya telah melakukan kepada 12.800 ekor sapi sejak awal Maret 2025, sementara sisa stok vaksin yang tersisa saat ini masih 200 dosis.
“Kita biasanya pemberian vaksin pertama empat sampai enam minggu setelah itu vaksin kedua, baru setelah enam bulan vaksin ketiga,” ujarnya.(nis)





