LOMBOK – Volume sampah residu selama pelaksanaan event MotoGP 2025 di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika diperkirakan mencapai 30 hingga 35 ton. Angka tersebut belum termasuk sampah anorganik yang telah dipilah dan sisa makanan selama empat hari pelaksanaan event.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lombok Tengah, Lalu Sarkin Junaidi mengungkapkan, pihaknya saat ini tengah menghimpun data sisa makanan serta sampah anorganik seperti plastik dan kertas. Namun, data resmi nantinya akan dirilis oleh pihak ITDC.
“Memang yang harus merilis data ini adalah ITDC, sementara kami hanya mengetahui perkiraan jumlah residunya,” terang Sarkin kepada Koranlombom.id di kantornya, Selasa 7 Oktober 2025
Sarkin menambahkan, untuk hari pertama pelaksanaan, jumlah sampah mencapai sekitar 4 ton. Sedangkan hari puncak tanggal 5 mencapai sekitar 10 ton sampah residu.
“Kenapa kita hitung empat hari, karena pada hari puncak masih ada kegiatan lagi malamnya, sehingga tanggal 6 itu masih ada sisa kegiatan,” ungkapnya.
“Totalnya diperkirakan antara 30 sampai 35 ton sampah residu,” tambahnya.
Kadis menjelaskan, penanganan sampah yang terkumpul dibagi menjadi tiga jenis. Ada sampah sisa makanan, sampah anorganik yang bisa dipilah, dan sampah residu.
“Setiap pihak sudah dibagi perannya. Untuk sampah residu, kami yang menangani pengangkutan dari TPS di dalam maupun luar area menuju TPA. Sementara pemilahan dilakukan oleh Bank Sampah dari Pengengat, yaitu Artika Jaya bersama Karang Taruna Desa Pengengat. Adapun pengelolaan sampah sisa makanan dilakukan oleh BSF Sengkol,” bebernya.
Menurut Sarkin, jenis sampah yang paling banyak yaitu sampah organik yang tidak bisa lagi dipilah oleh rekan-rekan.
“Kalau sampah anorganiknya sudah terpilah,” tuturnya.
Terkait anggaran pembersihan sampah ini. Kadis Sarkin menjelaskan bahwa ITDC bekerja sama dengan pihak ketiga, dan pihak ketiga berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup.
“Masalah anggaran hanya operasional kendaraan. Karena ini kepentingan nasional, jadi kami berkontribusi di situ. Artinya, kami tidak berbicara soal untung rugi,” tegasnya.
Ia menyampaikan bahwa volume sampah tahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu, seiring meningkatnya jumlah penonton. Tahun ini juga lebih spesifik karena terdapat sampah sisa makanan, sedangkan tahun lalu hanya ada pemilahan sampah organik dan anorganik.
“Tapi kami masih menunggu data lengkap, dan nantinya data dari kami bisa menjadi pembanding,” katanya lagi.
Jumlah sampah tahun lalu mencapai 36 sampai 38 ton yang masuk ke TPA. Sementara untuk tahun ini datanya belum final, masih kisaran 30–32 ton, dan sebagian data masih belum kami rekap setelah dapat data dari pengurus TPA.(hil)





