LOMBOK — Forum Gerakan (FOGER) Pemuda Aik Meneng yang secara resmi dideklarasikan pada Sabtu, 10 Mei 2025 di Kantor Desa Selebung, Kecamatan Batukliang. Forum ini menjadi wadah konsolidasi pemuda lintas wilayah untuk mendorong pemberdayaan potensi daerah di zona Aik Meneng.
FOGER menghimpun pemuda dari empat kecamatan, yakni Batukliang, Batukliang Utara, Kopang, dan Pringgarata. Kehadiran forum ini diharapkan menjadi ruang bersama bagi generasi muda untuk membangun gerakan sosial yang progresif, inklusif, dan berorientasi pada masa depan pembangunan daerah.
Dalam deklarasi, para peserta menyoroti bahwa pemuda memiliki peran strategis dalam pembangunan daerah sebagai agen perubahan sosial. Namun, fragmentasi organisasi dan minimnya ruang kaderisasi dinilai masih menjadi hambatan dalam optimalisasi potensi generasi muda di Lombok Tengah.
Salah satu penggerak, Tomi Hasan Basri menegaskan bahwa FOGER tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya pemuda, tetapi juga ruang pengkaderan dan laboratorium kepemimpinan generasi muda Lombok Tengah.
“Wadah ini penting untuk membangun ekosistem kepemimpinan muda, dengan budaya kritik berbasis data serta solusi konkret terhadap kebijakan daerah. Jika ini konsisten dilakukan, dalam 5 hingga 10 tahun ke depan akan lahir pemimpin-pemimpin hebat dari wilayah utara Lombok Tengah,” ujarnya.
Dalam proses pembentukannya, FOGER dirancang sebagai gerakan kolektif yang berfokus pada pembangunan ekosistem kepemudaan berkelanjutan di Kabupaten Lombok Tengah. Desain gerakan ini dibangun melalui proses konsolidasi kolektif, sistem kaderisasi berkelanjutan, serta gerakan sosial berbasis data sebagai landasan dalam membaca persoalan dan merumuskan solusi pembangunan daerah.
Model gerakan FOGER sendiri terdiri dari beberapa fokus utama, yakni konsolidasi pemuda, sistem kaderisasi, produksi gagasan, serta gerakan sosial berbasis data. Melalui pendekatan tersebut, forum ini ingin menghadirkan gerakan kepemudaan yang tidak hanya aktif secara seremonial, tetapi juga mampu melahirkan gagasan strategis dan aksi nyata yang berdampak bagi masyarakat.
Dalam forum tersebut juga disampaikan bahwa energi pemuda akan jauh lebih kuat ketika disatukan dalam gerakan kolektif dibanding berjalan sendiri-sendiri.
“Energi pemuda akan lebih kuat ketika disatukan, bukan dipisah-pisahkan,” katanya.
Pernyataan itu mempertegas pentingnya kolaborasi lintas organisasi dan lintas wilayah dalam membangun gerakan kepemudaan yang solid, progresif, dan berkelanjutan. Para peserta forum menilai bahwa FOGER berpotensi menjadi poros moral dan intelektual pemuda di Lombok Tengah melalui pola kaderisasi yang terstruktur dan gerakan sosial yang terarah.
Sementara itu, Haidir menyampaikan bahwa forum ini lahir dari visi kolektif untuk menghadirkan ruang kepemudaan yang aktif dan berkelanjutan.
Menurut dia, orientasi utama gerakan FOGER bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan membangun ekosistem kepemudaan yang mampu melahirkan generasi pemimpin baru dengan kapasitas, keberanian, dan kepedulian terhadap pembangunan daerah.
Sementara itu, Kadri Ramdani menyoroti besarnya potensi kawasan Aik Meneng yang dinilai belum dimaksimalkan secara optimal. Menurutnya, diperlukan gerakan kolaboratif lintas kecamatan agar potensi tersebut mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
“Potensi Aik Meneng sangat besar, namun belum dioptimalkan. Karena itu, diperlukan gerakan kolaboratif dari pemuda untuk mendorong kemajuan wilayah ini,” jelasnya dalam sesi kajian fakta dan potensi daerah.
Melalui pembentukan FOGER, para pemuda berharap dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menghadirkan inovasi pembangunan berbasis potensi lokal, sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai motor perubahan sosial di Lombok Tengah.
Berdasarkan hasil deklarasi dan diskusi kolektif yang berlangsung, FOGER dinilai sebagai model gerakan kepemudaan yang mampu mengintegrasikan potensi wilayah, mengatasi fragmentasi pemuda, serta membangun sistem kaderisasi berkelanjutan dalam satu gerakan kolektif yang terorganisir.(red)





