LOMBOK — Harga sejumlah bahan pokok mengalami penurunan di Pasar Renteng, Praya. Diperkirakan imbas dari penghentian sementara program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena libur sekolah. Penurunan bahan pokok paling terasa pada komoditas cabai, telur, dan bawang. Sebelumnya, komoditas ini sempat mengalami lonjakan harga pada saat program MBG berjalan.
Seorang pedagang di Pasar Renteng Atik menuturkan, harga cabai rawit, telur bahkan bawang tembus Rp 180 ribu per kilogram pada bulan Mei 2026. Namun setelah pembelian dari program MBG berhenti sementara, harga cabai turun drastis hingga berada pada kisaran Rp 37.500 per kilogram.
“Kalau cabainya hari itu sampai Rp 180 ribu pernah bulan Mei. Jauh turunnya, makanya enak kita belanja sekarang,” ungkap Atik kepada media, Rabu 1 Juli 2026.
Menurut Atik, selama program MBG berjalan stok sejumlah komoditas di pasar sempat sulit diperoleh karena sebagian kebutuhan dipenuhi melalui pembelian langsung ke pusat distribusi maupun peternak.
“Jangan ke kandangnya langsung. Kita bilang bagi-bagi rezeki. Harapannya pemilik SPPG beli di pasar lokal,” ceritanya.
Selain cabai, Atik juga menyebut harga telur ukuran jumbo mengalami penurunan dari Rp 55 ribu menjadi Rp 50 ribu per tray. Ini juga sama imbas dari program MBG dihentikan.
Atik mencatat harga bawang merah mengalami penurunan signifikan sekarang. “Bawang merah dulu Rp 50 ribu sampai Rp 55 ribu. Sekarang harga belinya Rp 28 ribu sampai Rp 30 ribu,” ungkapnya.
Pedagang lainnya di Pasar Renteng Rauhun juga menyampaikan hal sama. Ia menyebutkan, penghentian sementara MBG memberikan dampak positif terhadap stabilitas harga di pasar, sehingga daya beli masyarakat mulai membaik.
“Besar dampaknya MBG ini, semua segala naik, orang semua mengeluh harga apa-apa ini. Harga uang tidak ada, harga barang semua naik,” tutur Rauhun.
Rauhun menilai, saat harga tinggi banyak pembeli mengurangi belanja karena uang yang dibawa tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
“Kalau kemarin segala mahal, tidak mau pembeli belanja. Kalau bawa uang Rp 200 ribu saja ke pasar,tidak dapat apa-apa mereka bilang. Sekarang pendapatan kita lebih stabil,” katanya.
Rauhun juga menyebut hampir seluruh komoditas mengalami penurunan harga setelah operasional MBG dihentikan sementara.
“Semua turun setelah MBG. Cabai kecil dari Rp 100 ribu ke Rp 50 ribu, sekarang Rp 40 ribu. Bawang putih kemarin sudah harga Rp 50 ribu sekarang turun jadi Rp35 ribu sampai Rp 38 ribu di pasar,” katanya.
Pedagang cabai lainnya, Yulia mengatakan jika stok cabai kini lebih mudah diperoleh dibandingkan ketika program MBG masih aktif.
Yulia menyebutkan, penurunan harga terjadi hampir pada seluruh jenis cabai. “Cabai rawit dulu 80 ribu, sekarang 40 ribu. Cabai besar dulu 40 ribu, sekarang 20 ribu, keriting mencapai 60 ribu sekarang 30 ribu,” katanya lagi.
Kendati demikian, tidak semua komoditas mengalami penurunan harga. Pedagang daging sapi, Amina justru mengaku harga daging mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.
“Daging naik. Harga sapi Rp 150 ribu per kilogram, normalnya Rp 130 ribu,” kata Amina.
Ia memperkirakan kenaikan tersebut dipicu oleh berkurangnya pasokan ternak di tingkat peternak maupun pedagang hewan.
“Mungkin hewannya yang kurang. Kayak kemarin-kemarin kan banyak,” katanya.
Sementara itu, pedagang hasil laut mengatakan penghentian sementara MBG tidak memberikan dampak berarti terhadap harga udang maupun cumi-cumi karena harga komoditas tersebut lebih dipengaruhi biaya produksi di tambak.
“Tergantung di tambaknya. Naik pakannya baru kita naikkan di sini, turun pakannya baru turun harganya,” kata seorang pedagang udang di Pasar Renteng.
Sebelumnya, Badan Gizi Nasional (BGN) resmi menghentikan sementara penyaluran program MBG selama masa libur sekolah. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Kepala BGN Nomor 12 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).(hil)





