LOMBOK – Ketua Komisi II DPRD Lombok Tengah, Ferdian Elmansyah merespons cepat viral video yang diunggah oleh akun instagram @faricayo terkait dugaan pungutan liar dan pemerasan di Bukit Seger, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.
Atas kejadian itu, Ferdi meminta Dinas Pariwisata untuk segera menindaklanjuti dugaan Pungli dan meminta mereka segera berkoordinasi dan mencari solusi dengan pihak terkait termasuk pengelola.
“Kami di Komisi II berharap Dinas Pariwisata betul – betul mengambil peran, kan ini pariwisata kita berbenah dan sedang berkembang. Jangan sampai tercoreng dengan hal yang kecil,” tegasnya kepada Koranlombok.id pada Senin, 17 Agustus 2026.
Katanya, pembayaran tiket atau karcis masuk di destinasi wisata seharusnya cukup dibayar sekali saja. Politikus Golkar ini menyarankan agar bisa dilakukan pembayaran digital atau cashless agar terhindar dari pungli yang sebabkan wisatawan tidak nyaman.
Soal transparansi pengalokasian setiap tiket yang dibayarkan oleh wisatawan sangat penting, termasuk ke pihak mana yang mengelola dan detail peruntukannya. Hal ini perlu dikoordinir oleh Dinas Pariwisata tak hanya di Bukit Seger tetapi di semua disetinasi, mengingat pendapatan asli daerah (PAD) yang resmi masuk ke kas daerah hanya Aik Bukak.
“Makanya perlu betul – betul dievaluasi, maksud kami dalam konteks harus menyumbang PAD juga tetapi dari setiap karcis tersebut bisa dialokasikan kepada pengelolaan kebersihan dan fasilitas lainnya, tapi harus jelas yang mengurus itu dan masuknya kemana,” katanya tegas.
Adanya kabar dugaan Pungli, kata politisi muda Partai Golkar ini, tentu berpengaruh terhadap iklim investasi daerah yang sedang gencar dibangun oleh Pemda saat ini. Sementara itu pada siang besok pihaknya akan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Dinas Pariwisata.
Sebelumnya viral video pengakuan seorang wisatawan saat berwisata ke Bukit Seger ia dikenakan tiket parkir bertuliskan Festival Bau Nyale sebesar Rp 10 ribu, kemudian saat dirinya menyebrang jembatan menuju bukit dikenakan karcis yang tidak sesuai dengan harga yang tertera pada karcis.
“Yang kedua ketiga gue naik bukit, menyebrang jembatan disuruh bayar lagi Rp 10 ribu dan gue protes ya udah dibalikin Rp 5 ribu, kemudiam gue minta tiketnya dong dan harga tiketnya berapa Rp 2.500,” katanya dalam video yang diunggah,
Dia tak mempersoalkan nominal setiap karcis yang dibayar, bahkan jika dirinya dimintai karcis sebesar Rp 50 ribu masih sepadan dengan pemandangan Bukit Seger, namun dirinya menyayangkan ketidakjujuran pengelola yang memberikan tiket yang tidak sesuai.
“Ini namanya pemerasan, ini karena tiketnya tidak sesuai dengan yang mereka minta guys. Ini Lombok gue harap pemerintah turun tangan, ikut campur dalam benerin kayak gini,” pintanya.
Ia juga menyayangkan kondisi sekitar yang kotor, kendati pemandangan yang terlihat sangat indah.(nis)





