LOMBOK – Warga Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah berencana akan mulai membangun rumah adat pascakebakaran serentak 3 September 2026. Pembangunan ini dilakukan secara swadaya sembari menunggu anggaran dari pemerintah yang dijanjikan keluar.
Koordinator Guide Lokal sekaligus Koordinator Pengelola Desa Wisata Dusun Adat Sade, Talib mengatakan pembangunan serentak secara swadaya ini ditandai dengan pemasangan tiang atau peletakan batu pertama pekan ini.
“Kita akan mulai secara serentak untuk memasang tiang pertama,” tegas Talib dikonfirmasi Koranlombok.id via telepon, Selasa 1 September 2026.
Menurut dia, pemasangan tiang pertama menjadi tanda bahwa pembangunan rumah Adat Sade dimulai. Warga mengupayakan agar sebelum musim hujan sebagian rumah sudah dapat terealisasikan, sehingga warga dapat kembali menempati rumahnya.
“Artinya sebagian dari kami sudah bisa menempati,” harapnya.
Terkait sumber anggaran pembangunan awal ini, Talib menjelaskan untuk sementara pembangunan menggunakan dana swadaya yang berasal dari donasi yang telah diterima warga.
Sementara itu, dana yang dijanjikan pemerintah hingga kini belum diterima. Katanya, sebelum ada informasi dari Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal bahwa bantuan tersebut akan segera direalisasikan.
Talib mengatakan, sumber anggaran pembangunan nantinya beragam. Pemerintah juga tengah merencanakan pembangunan rumah warga terdampak kebakaran.
Ia menyebut berdasarkan pembicaraan sebelumnya, pemerintah memperkirakan anggaran pembangunan satu unit rumah pada kisaran Rp 100 juta hingga Rp 175 juta, termasuk biaya tukang dan desain pembangunan.
“Untuk satu unitnya sekitar 175 juta. Itu sudah sama tukang bangunan,” katanya.
Untuk pembangunan yang dimulai pada 3 September ini, warga terlebih dahulu menggunakan dana swadaya. Nilai dana swadaya yang telah terkumpul, kata Talib, diperkirakan sekitar 800 juta.
“Nilai secara jelasnya masih kami belum tahu. Jadi sekitaran lah ada mungkin sekitar 700-800-an,” ujarnya.
Untuk tahap awal, pembangunan direncanakan mencakup 75 rumah kepala keluarga. Disamping itu, Talib menegaskan pembangunan rumah warga tetap mempertahankan bentuk dan konsep bangunan seperti sebelumnya. Menurut dia, rumah adat tersebut merupakan bagian dari budaya dan tradisi yang diwariskan leluhur.
Katanya, warga mencintai budaya dan tradisi yang ada di Dusun Adat Sade. Karena itu, konsep bangunan rumah tidak akan dihilangkan atau diubah menjadi konsep modern. Termasuk pembangunan yang nantinya didukung pemerintah, Talib mengatakan desain atau struktur bangunan tetap mengikuti konsep lama.
Selain pembangunan rumah, warga bersama kepala dusun juga masih merancang akses jalan di kawasan tersebut. Salah satu pertimbangannya adalah agar akses menuju permukiman dapat lebih mudah digunakan, termasuk untuk mengantisipasi apabila terjadi kebakaran.
“Soal pelebaran jalan masuk ke rumah adat itu yang masih kami rancangkan bersama kepala dusun. Di mana nanti akses supaya bisa masuk untuk antisipasi tentang kebakaran juga,” ujarnya.
Hal lain juga yang menjadi perhatian warga adalah konsep kehidupan di Dusun Adat Sade yang akan dikembalikan seperti kondisi sebelumnya. Talib membenarkan warga menginginkan agar rumah adat tidak menggunakan listrik dan kompor gas.
“Benar. Listrik kami tidak akan pakai, kemudian apalagi kompor gas,” katanya.
Meski demikian, fasilitas toilet tetap akan tersedia. Hanya saja, fasilitas tersebut nantinya dirancang di bagian samping rumah dan memiliki akses dari dalam rumah.(hil)





