LOMBOK – Jumlah korban dugaan keracunan program makan bergizi gratis (MBG) di Lombok Tengah bertambah, awalnya 179 siswa dari SDN Beber, Kecamatan Batukliang. Data terbaru korban menjadi 352 siswa dari sejumlah sekolah.
Para korban dirawat di Puskesmas Pringgarata, Puskesmas Mantang, Puskesmas Aik Darek dan Puskesmas Bagu.
Ketua Satgas MBG Lombok Tengah, Lalu Rinjani yang dikonfirmasi lewat sambungan telepon membenarkan informasi jumlah siswa yang mengalami gejala muntah, mual dan pusing bertambah. Para koran dirawat di Puskesmas Puskesmas Aik Darek sebanyak 124 orang, Puskesmas Pringgarata 179 orang, Puskesmas Mantang 67 orang dan Puskesmas Bagu 17 orang. Sekarang semua siswa telah dipulangkan.
Terkait tindakan Satgas, nanti pihaknya akan berkoordinasi secara berjenjang dari koordinator wilayah kemudian ke Koordinator Regional hingga pusat yang akan berwenang. Sementara penyebab dari dugaan keracunan masih diselidiki.
“Sampel sudah kita bawa ke BPOM,” ungkapnya.
Kata Rinjani, berdasarkan data dari surveilance Dinas Kesehatan Lombok Tengah total ada 352 siswa yang mengalami dugaan keracunan MBG. Data ini telah dikonfirmasi ke Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Kesehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Putrawangsa dan data ini dibenarkan.
“Itu sudah, belum ada pembaharuan,” jawabnya via wa.
Polresta Lombok Tengah Turunkan Tim Lakukan Oleh TKP
Sementara, Polresta Lombok Tengah telah menurunkan Tim Inafis untuk melakukan identifikasi lebih lanjut penyebab kejadian. Kapolresta Lombok Tengah, Kombes Pol. Harianto juga turun meninjau kondisi korban di Puskesmas Pringgarata.
“Tadi Inafis dan dari Reskrim sudah kesana untuk olah TKP,” tegasnya.
Untuk upaya hukum masih belum ada, sedangkan menurut informasi yang diterima polisi ada tiga sekolah yang siswanya mengalami gejala mual dan muntah setelah konsumsi menu MBG yakni, SDN Beber, SDN Repok Puyung dan SDN Mertak Kesambik Daye.
Penjelasan Mitra SPPG Pasca Kasus Dugaan Keracunan
Mitra SPPG Desa Mekar Bersatu Yayasan Sain Budi Mangkling, Khaerudin memberikan penjelasan soal adana insiden tersebut. Mantan anggota DPRD Lombok Tengah menceritakan, pihaknya mulai memasak makanan dari pukul 12.00 WITA melakukan packing menu pukul 04.30 WITA dini hari, semua makanan dikirimkan kepada setiap sekolah pukul 07.00 WITA.
Selain itu oleh, pihaknya juga telah memberikan label kapan seharusnya menu tersebut harus dimakan oleh siswa yakni bawah pukul 09.00 WITA. Dengan demikian Khaerudin mengatakan pihaknya telah memenuhi standar operasional yang ditentukan.
“Sehingga kita sarankan untuk makanan yang basah karena sudah ada label kadaluarsanya, kita sedikit tidaknya harus memberikan sesuai dengan SOP yang ada panduan di masing – masing SPPG,” katanya tegas.
Untuk menu kebab yang disuguhkan juga merupakan permintaan dari para siswa. Namun soal salah satu bagian menu yang dikeluhkan oleh para siswa adalah ayam suir dengan campuran mayoneise yang harusnya lebih cepat dimakan sesuai dengan SOP itu. Sehingga wajar menurutnya jika basi. Pada pagi hari makanan juga sudah dicicipi untuk menentukan kelayakan makanan.
Kata Khaerudin, untuk mengantisipasi hal serupa kedepan pihaknya akan meningkatkan koordinasi dengan ahli gizi dan chef untuk setiap menu yang akan dibuat.
“Kebetulan juga ada di dekat sini, tidak ada kejadian karena pagi,” dalihnya.
Soal adanya insiden yang menyebabkan mual dan muntah yang diindikasikan karena keracunan MBG, Khaerudin mengaku baru merupakan dugaan dan pihaknya menunggu hasil resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN).
“Kalau nanti kaitannya soal disuspend atau yang lainnya kita tetap akan menunggu hasil laporan, tapi tadi dari Dinas Kesehatan sudah mengecek juga bahwa hanya ada keterlambatan pemberian makanan,” katanya.
SPPG miliknya ini menyalurkan MBG kepada 1.905 siswa dan B3 yakni ibu hamil, ibu menyusui dan balita non PAUD sebanyak 399 orang.
Khaerudin juga menanggapi perasaan trauma yang diungkapkan oleh orangtua siswa, tapi tidak semua penerima ternyata yang mengalami gejala tersebut.
“Ya karena trauma seperti di luar daerah ya, tapi selama ini kalau memang keracunan semua itu kan ada 2.900 itu. Sementara dapur yang dibagikan sesuai SOP nggak ada ini kan ada kesalahan teknis tenaga pemdidik dalam mendistribsikan terlambat,” tegasnya lagi.(nis)





