Siswa Belondong, Terobosan Pj Gubernur NTB yang Receh

oleh -3743 Dilihat
FOTO ISTIMEWA KORANLOMBOK.ID Sejumlah siswa di salah satu SMA di Lombok Tengah pada Hari Jumat menggunakan bendang.

LOMBOKSiswa SMA sederajat di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mulai belondong (besarung, red) pada hari Jumat. Program ini disorot banyak pihak. Kebijakan Pj Gubernur NTB, Lalu Gita Aryadi ini dinilai merupakan ide dan terobosan penguasa yang sangat receh.

“Iya, saya merasa aneh saja dengan kebijakan-kebijakan di dunia pendidikan sekarang ini, tujuan utama pendidikan semakin jauh, lebih banyak pemaksaan ide dan terobosan,” sentil Pengamat Kebijakan, Lalu Debi Margadi Kusuma kepada jurnalis Koranlombok.id, Rabu (22/11/2023).

Dia melihat, saat ini kebijakan penguasa bukan lagi soal membentuk manusia terdidik dan intelek. Dimana anak sekolah dibuat jadi objek uji coba pamer ide para elit setiap jenjangnya.

Baca Juga  PLN Cetak Kenaikan Laba jadi 17,4 Triliun

Selain itu juga, kebijakan penguasa dilihat sangat merepotkan siswa, guru, wali murid dan pihak terkait lainnya. Kebijakan siswa memakai londong dan bendang ini juga menghancurkan kekompakan seragam yang ada di sekolah.

“Sama dengan berpakaian adat. Para siswa dilatih untuk menunjukkan kemewahan pakaian mereka masing-masing, ini yang saya lihat,” sentilnya lagi.

Ia melihat tidak ada kebijakan yang berdampak pada peningkatan mutu pendidikan, justru menampakkan komersialisasi pendidikan.

Baca Juga  Program Lotim Berkembang Bakal Sasar Petani Rumput Laut

“Ini artinya semakin banyak biaya yang harus dikeluarkan para peserta didik untuk bisa sekolah. Saya hitung pakaian anak sekolah sekarang banyak sekali tiap hari ganti,” katanya tegas.

“Baju putih, pramuka, batik, olah raga, imtaq, pakaian adat, plus ditambah bendang dan londong,” sambung pria yang akbar disapa Amaq Ketujur ini.

Dirinya yakin, terobosan dan kebijakan ini pasti dipaksakan agar bisa terlihat para pemimpin ini punya terobosan.

“Biasalah untuk bergaya-gaya saat pidato,” sebutnya.

Dalam kesempatan itu, Debi mengaku sangat menyayangkan terobosan dari Pj Gubernur NTB yang seakan dipaksakan. Untuk itu dirinya berharap agar terobosan ini dievaluasi agar tidak ada pihak yang dirugikan.

Baca Juga  Pencabutan SK Mutasi 192 Pejabat Loteng, Begini yang Dipertanyakan Dewan

“Ini anggota dewan diam saja, coba dalami dan cari tahu,” tuturnya.

Harusnya sebelum program ini dijalankan, penguasa melakukan evaluasi. Karena semua ini pasti menggunakan uang. Bagaimana jika orangtua siswa tidak ada uang membeli londong dan bendang.

“Karena siswa pasti pakai londong dan bendang bagus, kan malu kalau yang sudah kusut,” pungkasnya.(dik)  

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.