LOMBOK – Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dikes) Lombok Tengah, Nasrullah membeberkan data Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Setidaknya ditemukan ada 800 bayi dengan BBLR pada tahun 2022.
Ditegaskannya, salah satunya dikarenakan pernikahan paksa usia anak. Menurut data dari sistem elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (EPPGBM), dimana dari sampel 300 anak balita yang mengalami stunting sebanyak 46 persen orangtua masih berusia di bawah 19 tahun.
“Artinya secara langsung ada korelasi, tapi kita perlu penelitian secara akademis,” terangnya kepada media, Rabu (13/12/2023).
Dinas Kesehatan melakukan sosialisasi kepada masyarakat yang telah terlanjur menikah masih dalam usia anak untuk menunda kehamilan dengan ber-KB. Sementara itu, bayi dengan berat badan lahir dibawah 2.500 gram dikategorikan dalam kondisi BBLR.
Begitu juga dengan pola asuh masyarakat juga masih menjadikan anak kerap mengalami stunting, padahal kebutuhan protein yang diproduksi masyarakat cukup tinggi namun belum memenuhi asupan gizi masyarakat.
“Makanya kita tidak bisa pastikan anak-anak kita konsumsi protein itu, kita pastikan punya sumber ikan tapi kan ikan kita di tempat lain,” terangnya.
Khusus kasus sunting, pemerintah berharap angkanya lebih rendah dari 13,34 persen pada penghujung tahun 2023. “Mudahan bisa turun lagi,” harapnya.
Terpisah, Wakil Bupati Lombok Tengah, H.M. Nursiah mengatakan target tahun depan angka stunting turun mencapai 11 atau 12 persen.
“Itu target, makanya optimis bisa 10 persen. Syukur kalau satu digit,” kata Wabup.
Nursiah mengatakan perlu pola asuh yang baik dalam memberikan gizi kepada anak, salah satunya dengan memberikan alternatif bentuk olahan protein lainnya kepada balita.
“Seperti waktu begibung makan ikan di Aik Berik itu kan, apakah monoton dikelak kuning atau digoreng kan bisa dibuat bakso atau lainnya,” katanya.(nis)





