LOMBOK — Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah merilis kasus demam berdarah dengue (DBD) tahun 2025. Terbanyak ditemukan di dua kecamatan. Yakni, Praya Timur dan Pujut.
Sementara itu jika dibanding kasus DBD tahun 2024 dan tahun 2025. Dinas kesehatan mengklaim mengalami penurunan. Data sampai Mei 2025, tercatat baru 103 kasus DBD yang tersebar di 29 puskesmas. Sedangkan tahun 2024 DBD ada 179 kasus.
Kepala Bidang Pengendali Penyakit dan Lingkungan (P3KL) Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Lalu Putrawangsa mengatakan bahwa meskipun jumlah kasus mengalami penurunan. Namun wilayah dengan sebaran kasus terbanyak tetap perlu diwaspadai.
“Kasus DBD di tahun ini memang menurun dibanding tahun lalu. Seperti Kecamatan Praya Timur dan Pujut masih mencatat angka kasus yang cukup tinggi. Rata-rata per puskesmas ada satu hingga dua kasus,” ungkapnya kepada jurnalis Koranlombok.id, Senin (23/6/2025).
Putrawangsa menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada laporan pasien DBD yang meninggal dunia. Penyebab utama masih berasal dari gigitan nyamuk aedes aegypti, yang berkembang biak di tempat-tempat genangan air.
Menurut Putrawangsa, pola hidup bersih masyarakat menjadi faktor penting dalam pencegahan DBD. Dia menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan prinsip 3M, yakni menguras, menutup, dan menimbun barang-barang yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.
“Kami sudah mengeluarkan edaran ke seluruh wilayah kecamatan, puskesmas, dan desa agar gencar melakukan promosi serta sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya pencegahan DBD. Jika ada kasus, kami imbau masyarakat segera melapor ke puskesmas dan memastikan tidak ada genangan air di sekitar rumah,” tegasnya.
Putrawangsa menambahkan, bahwa edaran serupa telah dilakukan setiap tahun termasuk di awal tahun 2025. Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipatif dalam menekan penyebaran penyakit DBD.(hil)





