LOMBOK – Bupati Lombok Tengah, Lalu Pathul Bahri merespons banjir yang terjadi di tiga desa baru-baru ini. Senin, 15 Desember 2025 banjir di sejumlah wilayah Desa Kuta, Kecamatan Pujut. Sementara pada Minggu, 14 Desember 2025 banjir menerjang delapan dusun di Desa Selong Belanak dan Desa Jangkih Jawe, Kecamatan Praya Barat.
“Sama halnya di Desa Kuta banyak faktor, faktor sampah, faktor drainase yang sedimentasi belum terangkat belum lagi masalah orang yang menebang hutan tempo dulu semua ini menjadi beban pikiran kita bersama bukan hanya pemerintah,” terangnya kepada media, Selasa 16 Desember 2025.
Pathul tak menutupi banjir disebabkan oleh penggundulan hutan dan pengerukan material tanah di bukit-bukit sekitar lokasi banjir.
Selain itu, kata bupati, karena adanya alih fungsi lahan perbukitan yang saat ini kerap dijadikan kebun jagung oleh warga setempat.
“Ada juga bagian dari itu, ada yang tanam jagung, makanya kita pikirkan skema pemberian setiap orang izin harus dengan penanaman pohon,” katanya.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah mengklaim telah turun ke lokasi melakukan peninjauan soal permasalahan. Sedangkan ancaman bencana banjir tidak hanya di wilayah selatan tapi juga utara, salah satunya ada dugaan tambang galian c ilegal di Desa Pemepek. Maka bupati menyarankan untuk ditutup.
“Tapi ingat galian C itu kewenangan Pemerintah Provinsi, kita hanya berikan merekomendasikan dan harus dipikirkan caranya,” sebutnya.
Bupati mengimbau warga agar menjaga kebersihan lingkungan seperti, melakukan pembersihan bersama drainase sekitar permukiman.
Katanya, dengan menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggal masing – masing adalah bentuk saling menghargai antara masyarakat, apalagi jumlah penduduk di Lombok Tengah mencapai 1.140.000 jiwa dan dengan wilayah yang cukup luas.(nis)





