LOMBOK – Pasca kasus dugaan keracunan susu kemasan kadaluarsa program makan bergizi gratis (MBG), 13 orang siswa dan seorang guru SDN 1 Darmaji, Kecamatan Kopang, Lombok Tengah. Penyaluran MBG di sekolah ini telah dihentikan penyaluran selama dua pekan. Pendistribusian MBG dihentikan pada Sabtu, 17 Januari 2026 sampai dua minggu.
“Dua atau satu minggu katanya (dihentikan, red), bukan permintaan sekolah tapi dari pihak dapur yang menginformasikan sedang evaluasi,” ungkap Kepala SDN 1 Darmaji, Nurminah kepada Koranlombok.id, Senin 19 Januari 2026.
Sementara itu para siswa yang sempat dirawat di puskesmas sekarang sudah masuk sekolah. Sedangkan siswa korban keracunan MBG itu, berasal dari kelas II, III, IV dan V dengan total siswa 13 orang dan satu guru.
Terkait satu siswa yang sempat menjalani rawat inap di puskesmas, dikatakan kepala sekolah sekarang sudah pulang pada Minggu sore dari Puskesmas Muncan.
“Jumlah murid tiang (saya, red) yang totalnya 13 orang dan satu guru, dibawa ke Puskesmas Muncan sembilan orang tetapi di sana kemarin penuh jadi kita ke sana Puskesmas Pengadang,” ceritanya.
Atas kejadian ini, ia menyayangkan sikap pihak SPPG yang dinilai lalai menyajikan susu kemasan. Terlebih antusias para siswa sangat tinggi setiap kali kendaraan MBG datang sehingga pihak sekolah tidak sempat melakukan pengecekan kembali.
Ceritanya, saat pemberian MBG sekitar pukul 08.00 WITA dan pada pukul 09.30 WITA para siswa mengalami mual dan pusing. Dia bersyukur pada Sabtu lalu jumlah murid yang masuk sekolah sedikit karena sebelumnya hari libur memperingati Isra Mikraj. Total siswa di SDN ini 195 siswa.
Nurminah menyinggung sajian MBG selama ini. Selain makanan seperti tahu, tempe, sayur sop, daging ayam dan terkadang telur sementara susu diberikan seminggu atau dua minggu sekali. Sayangnya air minum tidak ada.
“Kedepan supaya lebih dievaluasi lagi, supaya lebih benar sesuai dengan anggarannya, kemudian bahan-bahannya diperiksa terlebih dahulu kan ada tim pengawasnya, tim ahli gizinya kan ada, kenapa dikasih susu kadaluarsa,” sentilnya.
Terpisah ditemui Sekretaris Desa Darmaji, Syawaludin mengatakan kepala desa telah menghubungi pihak SPPG dan mengirimkan surat soal evaluasi kejadian tersebut.
Sedangkan soal rencana pihak Pemdes memanggil SPPG, sementara ini masih belum direncanakan. “Cuma mungkin waktunya saya belum tau kapan untuk bertemu,” kata Sekdes.
Jumlah SPPG di Desa Darmaji baru ada satu, ini milik yayasan dari Desa Monggas. Sedangkan ada dua titik SPPG yang dalam proses pembangunan namun Pemdes tidak mengetahui pemilik dapur siapa.
Dia berharap pihak Pemdes juga bisa turut bisa mengawasi atau minimal bisa memberikan rekomendasi kepada SPPG. Terutama soal data masyarakat setempat yang masih menganggur dan bisa diberdayakan sebagai tenaga kerja.
Paling penting untuk menyerap warga sekitar mengingat pekerjaan petugas SPPG berpatokan dengan waktu, karena sudah mulai mengolah makanan sejak malam atau dini hari dan baru dikirimkan pada pagi hari.
“Kalau untuk orang mana saja petugas SPPG kami kurang tau, karena kita tidak pernah masuk ke dapur itu nanti dikira kami intervensi,” katanya.
Jurnalis Koranlombok.id sempat mendatangi gudang SPPG di Dusun Lanji, Desa Darmaji untuk meminta konfirmasi. Tapi gerbang depan bangunan berkelir biru putih tersebut tertutup rapat.(nis)





