LOMBOK – Festival Film Bulanan (Fesbul) 2023 yang didukung sepenuhnya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dilakukan pemutaran dua film terpilih di lokus empat. Di antaranya, Bali dan Nusa Tenggara di Bioskop XXI, Lombok Epicentrum Mall, Mataram, Sabtu (25/11/2023).
Dalam malam penganugerahan Fesbul 2023, 20 Film terpilih lainnya juga diputar di 10 kota lainnya dari tanggal 24 sampai 30 November 2023. Salah satunya di Lombok.
Sementara, film dokumenter Sailum asal NTT dan film pendek Pepadu dari Lombok, NTB berhasil menjadi salah satu film terpilih lokus empat. Dalam acara pemutaran tersebut dihadiri oleh sejumlah komunitas pecinta perfilman di Lombok.
Perwakilan komunitas Bale Sineas Mentaram, Irfan Rahaswin mengatakan dirinya sangat mengapresiasi dan tertarik dengan konsep yang ditawarkan Fesbul 2023, dimana lebih menitik beratkan pertemuan film dengan penonton serta berbeda dengan festival fim lainnya.
“Fesbul 2023 melakukan gebrakan dalam dunia festival film pendek Indonesia, menurut saya ini sangat positif,” katanya.
Irvan menerangkan, sudah lama sekali di Indonesia film independen yang mengangkat isu-isu lokal dan kedaerahan tidak mendapatkan tempat, sementara melalui Fesbul 2023 memberikan ruang yang luas untuk penonton menikmati film-film tersebut.
“Saya berharap teman-teman juga bisa lebih banyak memproduksi film-film pendek. Jangan takut mengangkat isu lokal dan saya yakin dijamin akan banyak penonton yang menunggu film seperti itu sih,” yakinya.
Di tempat yang sama, Sutradara Film Pepadu, Ming Muslimin mengatakan karyanya tersebut sebelum ditetapkan sebagai film terpilih telah diseleksi ketat bersama dengan karya para sineas dari NTB, NTT, dan Bali.
Nantinya film Pepadu akan diseleksi kembali bersama 20 film lainnya dari seluruh lokus untuk menjadi salah satu yang terbaik dari enam kategori diantaranya, ide cerita terbaik, visual terbaik, audio terbaik, film dokumenter terbaik, film fiksi terbaik dan apresiasi favorit penonton.
“Mohon doa semoga bisa masuk menjadi film terbaik biar bisa mewakili NTB gitu kan, kalau kemarin kita cuma Bali Nusra semoga ini bisa dapat nasional,” harapnya.
Sedangkan ide cerita kata sineas asal Desa Rensing, Kecamatan Sakra, Lombok Timur tersebut, telah dia pikirkan sejak 2019 lalu dan sebenarnya disiapkan untuk program Masterclass View Shot Mataram, namun ide tersebut belum sempat direalisasikannya dan mengendap.
Dalam menggarap film Pepadu tersebut, dirinya menghabiskan dana sekitar Rp 50 juta yang ditanggung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif melalui program akselerasi dimana saat itu dicari satu proposal film dari masing-masing destinasi super prioritas, salah satunya Mandalika.
“Yang masuk pada waktu itu cukup banyak, tapi yang lolos dan dibiayai adalah film Pepadu,” ceritanya.
Konsep cerita film pepadu diambil dari sebutan bagi petarung kesenian peresean, Ming mengungkapkan dirinya ingin mengenalkan seni dan budaya suku sasak berdasarkan tema yang ditawarkan dalam program akselerasi tersebut, bahkan pemeran pepadu merupakan tokoh terkenal di arena peresean, yakni Selak Marong dan sebagai pemeran utama yakni Penginang Robek asal Desa Sakra sebagai Panji.
Dijelaskannya, film Pepadu menceritakan perjuangan Panji, seorang ayah yang gusar karena anaknya belum membayar biaya sekolah selama enam bulan. Sementara itu kepala sekolah hanya memberikan waktu pelunasan satu hari.
Mendengar ada pengumuman turnamen peresean yang digelar sebelum acara tradisi bau nyale, Panji yang sehari-hari menjual gula gending berharap mendapat banyak pembeli, namun karena salah satu petarung terlihat arogan dirinya yang lama tidak bertarung akhirnya maju ke arena, selain itu dirinya ingat hadiah dari peresean dapat membayar biaya sekolah anaknya.
Sementara untuk latar tempat pengambilan gambar dirinya memilih di Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru. Hal tersebut karena selain Mandalika dirinya juga ingin mengenalkan daerah Lombok bagian selatan tak kalah indahnya sebagai tempat tujuan wisata.
“Kan di Lombok bagian selatan juga banyak destinasi yang telah dikenalkan, itulah mengapa saya mengambil lokasi itu setidaknya lewat film itu saya mengenalkan landscape Lombok bagian Selatan,” katanya.
Ming berharap komunitas film lokal dapat dilirik oleh Pemerintah Daerah untuk tak hanya untuk mempromosikan pariwisata dan budaya, namun juga dapat menjadi lokomotif menggerakan ekonomi kreatif.
“Penggerak lokomotifnya lebih baik gandeng anak-anak film ini mereka mempromosikan UMKM, kan ada banyak medium yang bisa digunakan lewat filmnya dari marchandise, logo, iklan dan banyak banget yang bisa jadi publikasi,” sebutnya.
Sementara itu Film Sailum: Song Of Rustling yang turut diputar pada kesempatan yang sama merupakan film dokumenter terpilih dari Timor Timur, NTT.
Dimana film yang digarap oleh Felix K. Nessi dan Moses Parlindungan Ompusunggu tersebut, menceritakan tentang bagaimana bermakna dan pentingnya tanaman aren bagi kehidupan masyarakat daerahnya di Timor Timur, NTT.
Pada film tersebut Felix K. Nessi menceritakan bagaimana aren telah menyokong kelangsungan hidup masyarakat di daerah dalam segala hal, termasuk keluarganya. (nis/adv)





