Oleh: Supiandi
(Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis UNU NTB)
Dunia hari ini tidak lagi bergerak dalam kepastian yang linear, melainkan dalam dinamika yang penuh dengan volatilitas. Fragmentasi geo-ekonomi, ketegangan perdagangan antara kekuatan besar, hingga konflik geopolitik yang berkepanjangan telah menciptakan riak besar pada arus perdagangan dunia. Pertumbuhan ekonomi global pada 2026 yang berada dalam fase stagnan di kisaran 3,1 persen menurut proyeksi International Monetary Fund (IMF) mencerminkan sikap hati-hati para pelaku usaha. Fenomena ini memicu selektivitas investor yang semakin tinggi, di mana keputusan investasi sering kali tertahan oleh sentimen “wait and see” akibat fluktuasi nilai tukar dan kebijakan suku bunga global yang tetap tinggi dalam waktu yang lebih lama. Di sektor ekspor, Indonesia pun tidak imun terhadap tekanan moderasi harga komoditas unggulan dan risiko dumping dari negara lain yang mengalami kelebihan kapasitas produksi. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa meningkatnya ketidakpastian ini bukan berarti ekonomi kita kehilangan arah, melainkan sebuah sinyal untuk melakukan navigasi yang lebih presisi.
Di tengah gejolak eksternal tersebut, fundamental ekonomi Indonesia justru menunjukkan resiliensi yang impresif sebagai jangkar stabilitas. Pertumbuhan ekonomi nasional yang konsisten terjaga di level 5 persen dengan tingkat inflasi yang terkendali dalam sasaran target merupakan bukti bahwa tekanan global masih berada dalam ruang kendali kebijakan. Stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang solid menjadi modal utama dalam menjaga kepercayaan pasar. Pemerintah dan otoritas moneter telah berhasil membangun benteng pertahanan melalui bauran kebijakan yang adaptif, sehingga ekonomi domestik tetap mampu bergerak positif meski berada di bawah bayang-bayang resesi global. Pesan kuat yang ingin disampaikan adalah bahwa kekuatan domestik kita cukup mumpuni untuk meredam guncangan dari luar tanpa harus memicu kepanikan publik.
Menariknya, ketidakpastian global ini sebenarnya membuka ruang reposisi bagi ekonomi nasional untuk mengambil peluang dari pergeseran rantai pasok dunia. Tren relokasi industri dari negara-negara yang terlibat konflik dagang menuju Asia Tenggara menjadi peluang emas bagi Indonesia. Melalui konsistensi kebijakan hilirisasi mineral, pengembangan energi baru terbarukan, dan penguatan manufaktur berbasis ekspor, Indonesia tidak lagi hanya sekadar penonton dalam percaturan global. Diversifikasi pasar ekspor ke negara-negara non-tradisional juga menjadi langkah krusial untuk mengurangi ketergantungan pada mitra dagang utama yang sedang mengalami perlambatan. Dalam konteks ini, gejolak global justru menjadi momentum bagi kita untuk mempercepat transformasi ekonomi menuju sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi.
Nusa Tenggara Barat (NTB) tampil sebagai bagian dari solusi nasional melalui penguatan ekonomi lokal yang strategis. Kinerja sektor eksternal daerah menunjukkan dinamika yang semakin positif. Data terbaru menunjukkan bahwa ekspor NTB mengalami peningkatan signifikan sejak April 2025 dan mencapai puncaknya pada September 2025 sebesar sekitar US$173,7 juta, sekaligus mendorong pergeseran neraca perdagangan dari kondisi defisit pada awal tahun menjadi surplus yang kuat dalam beberapa bulan terakhir. Penguatan tersebut mencerminkan peningkatan daya saing produk ekspor daerah, terutama dari sektor industri pengolahan berbasis hilirisasi. Kinerja ini sekaligus menjadi sinyal positif bagi pelaku pasar bahwa aktivitas ekonomi di tingkat daerah tetap berlangsung secara sehat dan progresif.
Di sisi lain, realisasi investasi juga menunjukkan momentum yang solid. Hingga Triwulan III 2025, investasi di NTB telah mencapai sekitar Rp48,98 triliun, dengan dominasi pada sektor energi dan sumber daya mineral, pariwisata, serta industri pengolahan. Bahkan pada periode yang lebih mutakhir, realisasi investasi triwulanan tercatat sebesar Rp11,461 triliun pada Triwulan IV 2025, yang didominasi oleh investasi domestik sebesar 80 persen. Capaian ini menegaskan bahwa NTB tidak hanya menjadi tujuan investasi, tetapi juga semakin dipercaya sebagai basis produksi dan pengembangan industri bernilai tambah.
Potensi pariwisata Lombok yang telah dikenal secara global semakin memperkuat posisi NTB sebagai magnet investasi. Sektor ini tidak hanya menghasilkan devisa, tetapi juga menciptakan multiplier effect bagi sektor ekonomi lainnya. Selain itu, UMKM di NTB yang mulai berorientasi ekspor menunjukkan peningkatan daya saing di pasar internasional. Produk unggulan non-tambang seperti ikan tuna dan vanili ke Amerika Serikat, kemiri ke Jepang dan Arab Saudi, serta berbagai komoditas lainnya, memperlihatkan bahwa pelaku usaha lokal memiliki kapasitas untuk beradaptasi dan berkembang di tengah kompetisi global. Dengan memperkuat ekosistem usaha lokal dan memastikan dampak investasi dirasakan langsung oleh masyarakat, NTB berkontribusi besar dalam menjaga ekspektasi publik tetap stabil. Penguatan ekonomi di tingkat daerah inilah yang pada akhirnya akan memperkokoh ketahanan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Sebagai penutup, kunci utama dalam menavigasi ketidakpastian ini adalah kemampuan kita dalam membangun kepercayaan melalui konsistensi kebijakan. Diplomasi ekonomi yang kuat, insentif investasi yang strategis, pembinaan yang konsisten, serta perlindungan industri domestik yang selektif harus dieksekusi secara harmonis. Dalam lanskap global yang bergejolak, keunggulan sebuah bangsa tidak ditentukan oleh absennya risiko, melainkan oleh kemampuannya dalam mengelola ekspektasi dan menjaga kepercayaan investor serta publik. Dengan arah kebijakan yang adaptif dan konsisten, Indonesia akan terus bergerak maju, mengubah setiap tantangan menjadi peluang yang nyata bagi kesejahteraan masyarakat.






