LOMBOK — Dua kepala desa di Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah bereaksi setelah beredar potongan video Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal memberikan sinyal menolak proyek pembangunan kereta gantung menuju Gunung Rinjani.
Kepala Desa Karang Sidemen, Yuda Praya Cindrabudi menegaskan, hingga saat ini pihaknya belum menerima informasi resmi dari Pemerintah Provinsi NTB terkait kabar penolakan pembangunan kereta gantung yang digagas oleh PT. Indoresa Lombok Resort.
Kendati demikian, pemerintah desa bakal tetap menghormati dan siap mengikuti setiap kebijakan yang diambil oleh Gubernur NTB terkait proyek tersebut.
“Ketika informasi yang kami dapatkan dari media menyebutkan ada penolakan atau peninjauan kembali terkait pembangunan kereta gantung, mungkin Pak Gubernur memiliki pertimbangan sendiri. Kami sebagai pemerintah desa tetap mendukung keputusan tersebut,” ungkapnya kepada Koranlombok.id via telepon, Senin 11 Mei 2026.
Menurut Yuda, rencana pembangunan kereta gantung sebelumnya sempat menjadi harapan bagi para pemuda di Desa Karang Sidemen. Hal itu karena sebagian besar pemuda di desa memiliki latar belakang pendidikan di bidang pariwisata, sehingga dinilai memiliki peluang untuk terlibat dalam sektor tersebut.
“Dalam beberapa pertemuan dengan investor, kami melihat kereta gantung ini menjadi salah satu harapan pemuda di desa kami. Banyak pemuda di sini memiliki keterampilan di bidang pariwisata,” bebernya.
Selain membuka peluang kerja, pemerintah desa juga berharap pembangunan tersebut dapat mendorong perbaikan infrastruktur jalan menuju kawasan utara Lombok Tengah. Saat ini kondisi jalan dari jalur nasional Pemepek menuju kawasan hutan di sekitar lokasi rencana proyek masih rusak dan sulit dilalui, terutama saat musim hujan.
“Tentu kami berharap jalan-jalan yang rusak ini bisa diperbaiki jika proyek tersebut terealisasi,” harapnya.
Dia menambahkan, intensitas hujan yang cukup tinggi di wilayah Desa Karang Sidemen membuat kondisi jalan cepat rusak dan berlubang sehingga kerap menyulitkan masyarakat dalam beraktivitas.
Terpisah, Kepala Desa Lantan Erwandi menilai rencana pembangunan kereta gantung memang memunculkan perdebatan di tengah masyarakat. Menurut dia, proyek tersebut harus didahului dengan kajian yang jelas, terutama terkait dampaknya lingkungan.
“Bukan berarti kami tidak setuju, tetapi setiap proyek pembangunan harus memiliki kajian yang jelas,” tegasnya via wa, Senin 11 Mei 2026.
Erwandi menegaskan kembali, pembangunan di kawasan utara Lombok Tengah harus tetap memperhatikan kelestarian ekosistem alam.
“Kami ingin setiap proyek pembangunan ini tidak merusak ekosistem dan kelestarian alam yang ada di wilayah utara,” dalihnya.
Kades Lantan menjelaskan kawasan utara Lombok Tengah merupakan salah satu daerah penyangga utama sumber air bersih bagi masyarakat.
“Wilayah utara ini merupakan salah satu suplai utama kebutuhan air minum untuk Lombok Tengah,” bebernya.
Selain itu, masyarakat Desa Lantan juga sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang diwariskan oleh para leluhur. Dalam tradisi masyarakat setempat, terdapat ritual tertentu yang dilakukan sebelum memasuki kawasan hutan.
Kades juga mengingatkan agar rencana pembangunan kereta gantung mempertimbangkan nasib para porter dan pemandu wisata yang selama ini menggantungkan hidup dari aktivitas pendakian Gunung Rinjani.
“Kita juga harus memikirkan nasib teman-teman yang mata pencahariannya di sana,” katanya.(hil)






