LOMBOK — Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Lombok Tengah, Lalu Firman Wijaya menyebut kericuhan yang terjadi pada ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) NTB 2026 di Gelora Olahraga (GOR) Tastura, Sabtu 18 Juli 2026 sebagai bentuk ekspresi kekecewaan sesaat. Firman mengatakan, pihaknya siap memfasilitasi upaya perdamaian atau restorative justice bagi pihak-pihak yang terlibat.
Terkait adanya pemukulan dalam insiden kericuhan tersebut, Firman membenarkan bahwa ia telah menerima informasi mengenai hal tersebut.
“Iya, saya dapat informasinya seperti itu bahwa yang menjadi korban pemukulan itu wasit voli,” kata Firman, Jumat 24 Juli 2026.
Firman menjelaskan, proses hukum atas insiden tersebut diserahkan sepenuhnya kepada kepolisian. Kendati demikian, KONI Lombok Tengah siap memfasilitasi apabila terdapat upaya penyelesaian secara damai melalui mekanisme restorative justice.
“Kami pasti akan fasilitasi itu,” ujarnya.
Firman menilai, kericuhan tersebut terjadi sebagai bentuk luapan kekecewaan sesaat. Namun, ia mengingatkan agar insiden serupa tidak kembali terjadi dalam penyelenggaraan pertandingan olahraga.
Dia menyatakan, keyakinannya bahwa kepolisian akan mempertimbangkan berbagai hal dalam menangani perkara tersebut.
Soal pengamanan pertandingan pada 11 cabang olahraga (cabor) dalam rangkaian Porprov NTB, Firman mengungkapkan bahwa sistem pengamanan tetap mengacu pada desain awal. Ia menyebut belum ada penambahan pengamanan secara mencolok.
“Untuk pengamanan ya tetap sesuai dengan desain awal,” pungkasnya.
Sebelumnya, kericuhan terjadi di ajang Porprov NTB 2026 pada final cabang olahraga bola voli putra yang mempertemukan Lombok Barat melawan kontingen Dompu. Kericuhan diduga dipicu keputusan wasit yang memberikan poin kepada Lombok Barat setelah pemain Dompu dinilai melakukan double.
Korban dalam kasus ini inisial MA seorang wasit dari Pujut, Lombok Tengah. setidaknya 14 orang telah dilaporkan atas kejadian tersebut.(hil)





