Buntut Keracunan Massal, Orangtua Siswa SDN Beber Tolak Permanen MBG

oleh -525 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID / Seorang siswa SDN Beber saat berlari di halaman sekolah.

 

 

LOMBOK – Ketua Komite SDN Beber, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah Surya Dharmawan menegaskan semua orangtua murid di SDN Beber bersepakat menolak program makan bergizi gratis (MBG) usai anak-anak mereka diduga keracunan usai mengkonsumsi MBG pada Jumat, 11 September 2026.

 

“Intinya program makanan bergizi gratis setelah adanya kejadian kemarin tidak akan kami terima secara permanen,” tegasnya kepada media pada Senin, 14 September 2026.

 

Sebelum adanya kesepakatan ini dipastikannya murni karena para wali murid yang mengantarkan anaknya pada Sabtu lalu, secara spontan mereka langsung berkumpul dan mengadakan rapat dan memutuskan menolak program bersutan Presiden Prabowo tersebut.

 

“Ini murni dari kemauan wali murid dan Komite tidak melibatkan sekolah,” ungkapnya tegas.

 

Sedangkan soal perbaikan kedepan dari pihak SPPG, orangtua merasa hal tersebut tidak bisa menjamin keselamatan para siswa kedepan kendati program ini pada awalnya juga telah dibuat sebaik mungkin.

 

Para orangtua dan lebih – lebih siswa masih merasa trauma akibat gejala mual, pusing dan sakit perut yang mereka alami.

Pada saat kejadian awal cerira Surya, karena rumahnya berada tepat di seberang sekolah dirinya sempat mengantarkan langsung para siswa yang mengalami gejala dugaan keracunan MBG ke beberapa Puskesmas dengan mobil pribadinya.

 

“Secara pengalaman kejadian kemarin itu trauma yang sangat luar biasa, karena kami melihat langsung kejadian itu, jadi saya lihat sendiri bagaimana anak – anak terkapar, anak – anak teriak, bagaimama anak – anak muntah, anak – anak pingsan. Kalau kita erpikir itu anak kita sendiri kita pasti rasakan hal yang sama,” yakinnya.

Baca Juga  Kadis Pertanian Lombok Tengah Luruskan Soal Bisnis Bantuan

 

Terkait permintaan tanggungjawab pihak SPPG selaku pihak penyalur MBG, Komite dan wali murid lebih lanjut akan melakukan rapat pada sore hari ini. Sedangkan soal langkah hukum yang akan diambil sampai saat ini masih belum ada.

 

 

Sikap Kepala SDN Beber

 

Kepala SDN Beber, Mustar mengaku menyayangkan tuduhan Ketua Yayasan SPPG bahwa ada kelalaian guru karena telat membagi makanan sesuai label masa kadaluarsa yang telah ditempelkan di atas ompreng.

 

Katanya, para guru membagikan makanan seperti pada hari – hari biasanya saat waktu keluar main, karena makanan datang pada waktu pelajaran sedang berlangsung.

 

Mustar membantah para guru tidak ada di sekolah karena menghadiri acara peringatan Maulid, sehingga tidak memberikan makanan sesuai SOP.

“Kami dituduh bersama teman – teman guru ini tidak ada di sekolah, sehingga terlambat pembagian MBG nya katanya kita pergi maulidan. Padahal kita tidak pernah dan sedang ada di sekolah,” tegasnya.

 

Salah satu guru, Azia Liliyana mengatakan pada pukul 09.00 WITA ompreng sudah mulai dibagikan dan selang beberapa waktu setelah menyantap makanan tersebut sejumlah siswa mengeluhkan mengalami pusing dan dibawa ke ruangan kepala sekolah untuk diobati sementara.

Kondisi siswa yang mengalami gejala serupa semakin bertambah, alhasil pihak sekolah menghubungi ambulance desa dan dibantu oleh Komite membawa anak – anak ke Puskesmas Aik Darek.

Baca Juga  PDAM Bakal Ngutang 120 Miliar, Dewan: Lebih Baik untuk Pendidikan

 

Ceritanya, beberapa siswa saat ini tidak masuk sekolah karena masih merasakan efek tersebut dan satu siswa saat ini masih dirawat di Puskesmas Mantang.

 

“Ya masih takut, masih pusing dan trauma. Anak – anak juga bilang masih trauma kalau kita lihat makanan begitu kadang seperti gimana gitu,” tuturnya.

Soal menu kebab yang dibagikan merupakan permintaan dari anak – anak, ucapnya tidak pernah ada petugas SPPG menanyakan hal tersebut langsung kepada anak.

 

Sebelum dibagikan ia juga telah melakukan pengecekan terhadap salah sati ompreng, untuk menentukan menu yang disajikan aman bagi para siswa. Dirinya juga mengatakan tidak ada label waktu batas kadaluarsa makanan tersebut.

 

Kondisi menu itu sekilas baik dan enak, dia bahkan sempat menkonsumsi menu MBG tersebut bersamaan dengan waktu para siswa menikmati makanan tersebut. Namun pada saat sore hari gejala seperti pusing, mual dan sakit perut baru dirasakannya, begitu juga dengan lima guru lainnya yang sempat mencicipi menu tersebut.

 

Karena tidak menerima program MBG, sementara ini sejumlah siswa ada yang sarapan dari rumah dan beberapa juga ada yang membawa bekal.

 

 

Disuspend 20 Hari, Mitra SPPG Khaerudin Minta Maaf

 

Sementara, SPPG Yayasan Budi Sain Mangkling di Dusun Gunung Kedul, Desa Mekar Bersatu, Batukliang saat ini dihentikan operasinya sementara atau disuspend selama 20 hari pasca adanya insiden dugaan keracunan pada 325 siswa pada Jumat, 11 September 2026.

Baca Juga  KODAM Akan Dibangun di Rembitan, Pemkab Loteng Siapkan Lahan 70 Hektare

 

Ketua Yayasan, Khaerudin mengatakan bahwa dengan diberlalukan suspend tersebut proses penyaluran menu MBG sementara tidak dilakukan menunggu suspend teebut dicabut oleh Badan Gizi Nasional (BGN).

“Dari BGN sendiri telah memberikan suspend,” kata Khaerudin saat ditemui pada Minggu, 13 September 2026.

 

Selain itu untuk keputusan selanjutnya, masih menunggu hasil uji laboratorium sample makanan yang sempat dibagikan tersebut, sedangkan soal evaluasi yang diberikan oleh BGN pasca adanya insiden kemarin ungkapnya nanti yang berwenang dan mengetahui lebih lanjut adalah SPPI sebagai Kepala SPPG.

 

Selama dilakukan suspend pekerja MBG diliburkan, namun sewaktu – waktu akan tetap masuk untuk melakukan simulasi ataupun mengecek kebersihan dapur.

Pihaknya selaku mitra mengatakan akan senantiasa berkoordinasi untuk setiap menu yang akan dibuat, terutama mengutamakan menu lokal yang aman bagi semua penerima manfaat.

Selain itu dirinya juga menyampaikan permintaan maaf baik kepada para guru dan orangtua siswa terkait ucapannya yang membuat gaduh di media. Mantan anggota DPRD Lombok Tengah berdalih tidak bemaksud menyinggung para guru yang telat membagikan menu MBG sesuai dengan label waktu yang tertera di ompreng.

 

“Kepada semua wali murid, guru – guru dan pihak lainnya sebagai penerima manfaat, kalaupun ada kata dan ucapan karena saya rasa semua panik, jangankan sekelas saya tapi orang – orang juga panik mungkin ada ucapan yang salah kita mohon maaf,” ucapnya.(nis)

 

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.