Okupansi Hotel Jelang MotoGP 2026 di Mandalika Diklaim 86 Persen

oleh -783 Dilihat
DOK PRIBADI FOR KORANLOMBOK.ID / Ketua Mandalika Hotel Association / Syamsul Bahri

 

LOMBOK – Tingkat hunian hotel di kawasan Mandalika dan sejumlah wilayah penyangga jelang pelaksanaan MotoGP 2026 diklaim mengalami peningkatan. Hingga saat ini, okupansi hotel  telah mencapai sekitar 86 persen. Pelaku industri perhotelan optimistis tingkat hunian bisa mencapai 100 persen pada tiga hingga empat hari sebelum gelaran MotoGP berlangsung.

 

“Per hari ini untuk okupansi di Mandalika dan penyangga di bawah asosiasi kami, MHA sudah 86 persen. Memang akhir-akhir ini banyak hotel baru yang buka dan ada penambahan kamar, sehingga masih ada selisih dari 100 persen yang belum terisi. Namun, dipastikan H-3 atau H-4 sudah full,” yakin Ketua Mandalika Hotel Association (MHA) Syamsul Bahri kepada Koranlombok.id via telepon, Rabu 16 September 2026.

 

Menurut Syamsul Bahri, tingginya tingkat hunian tersebut tidak terlepas dari pola reservasi atau pemesanan dari kru dan rider MotoGP yang sudah dilakukan jauh hari. Bahkan, sebagian hotel telah menerima pemesanan kamar untuk beberapa tahun ke depan.

 

“Dari tahun lalu, saat GP 2025 sekitar 50 persen sudah melakukan pembayaran awal untuk tahun berikutnya sebelum mereka check-out. Bahkan ada beberapa hotel yang sudah kontrak sampai 10 tahun sejak awal MotoGP,” katanya.

 

 

Syamsul memastikan pelaku usaha perhotelan telah melakukan berbagai persiapan untuk menyambut kedatangan kru, rider, tamu VIP, dan wisatawan yang akan hadir selama gelaran MotoGP.

 

Terkait harga kamar hotel menjelang MotoGP, Syamsul menjelaskan bahwa tarif yang berlaku sangat bervariasi dan dinamis, bergantung pada tingkat permintaan serta fasilitas yang ditawarkan masing-masing hotel. Untuk kru dan rider MotoGP, kata dia, umumnya sudah memiliki pagu anggaran tersendiri. Mereka kemudian memilih hotel yang sesuai dengan pagu tersebut.

Baca Juga  Meresahkan, Anak Sekolah Ikut Edarkan Narkoba di Lekor

 

“Untuk kru dan rider memang mereka sudah punya pagu sendiri. Jadi mereka memilih hotel sesuai dengan pagunya. Kalau hotel yang tarifnya lebih tinggi tidak sesuai pagu, mereka akan mencari alternatif hotel lain, intinya bervariasi lah dik,” jelasnya.

 

Selain kamar, sejumlah hotel juga menawarkan paket tambahan untuk menarik tamu, seperti makan malam, spa, yoga, dan berbagai fasilitas lainnya.Pola penentuan harga hotel saat MotoGP tidak jauh berbeda dengan mekanisme harga pada industri penerbangan yang sangat bergantung pada permintaan.

 

 

“Jangankan saat MotoGP, hari-hari biasa saja harga itu seperti manajemen airline. Sangat dinamis berdasarkan permintaan. Ketika permintaannya tinggi, secara otomatis harga akan naik,” ujarnya.

 

Gelaran MotoGP juga dinilai memberikan dampak positif terhadap lama tinggal wisatawan di Lombok. Berdasarkan pengalaman tahun sebelumnya, sejumlah kru dan wisatawan tidak langsung meninggalkan Lombok setelah balapan selesai. Mereka justru memperpanjang masa tinggal dan berpindah ke sejumlah destinasi wisata lain di Pulau Lombok.

 

 

Ia menjelaskan, wisatawan dan kru yang sebelumnya menginap di kawasan tertentu biasanya akan mencoba pengalaman berbeda setelah MotoGP. Ada yang berpindah dari Selong Belanak ke Kuta, dari Kuta menuju Gili Trawangan, Lombok Timur, Sekotong dan sejumlah destinasi lainnya. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang bagi sektor pariwisata Lombok karena dampak ekonomi dari MotoGP tidak hanya dirasakan selama ajang balap berlangsung.

Baca Juga  APKLI Merasa Tidak Dianggap Oleh Pemkab Lombok Tengah

 

“Ini menjadi dampak yang lebih panjang terhadap kita, khususnya di Lombok. Mereka sangat menikmati alam dan keindahan Lombok,” ujarnya.

 

Meski okupansi hotel tahun ini diperkirakan tetap tinggi, ia mengakui gaung MotoGP 2026 terasa sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu faktor yang disebutnya berpengaruh adalah kondisi geopolitik dan efisiensi perjalanan.

 

 

Syamsul mengatakan, berdasarkan informasi yang diterima dari salah satu agen, sebagian penggemar MotoGP dari Eropa cenderung membatasi perjalanan ke luar kawasan Eropa akibat situasi konflik di Timur Tengah.

 

“Sepertinya khusus tahun ini agak slow. Gaungnya tidak seperti tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

 

Menurut dia, penggemar MotoGP dari negara-negara seperti Prancis, Italia, dan Spanyol yang biasanya melakukan perjalanan ke luar Eropa berpotensi mengalami penurunan jumlah kunjungan.

 

“Kalau balapan di Spanyol atau Italia, mereka tetap ramai di sana. Mereka tidak keluar dari Eropa untuk menonton GP, sementara yang paling banyak datang sebelumnya dari Prancis, Italia, dan Spanyol,” jelasnya.

Namun, kondisi tersebut berpotensi diimbangi oleh meningkatnya wisatawan domestik, terutama dengan adanya pembalap Indonesia yang tampil dalam ajang MotoGP. Untuk kawasan Mandalika sendiri, tingkat hunian hotel masih didominasi kru dan rider MotoGP beserta tamu VIP yang dibawa oleh agen-agen resmi.

Baca Juga  Sehari 15 Kasus Perceraian Masuk di PA Praya, Selama Ramadan Menurun

“Di Mandalika memang didominasi kru dan rider MotoGP. Agen-agen dari luar yang membawa mereka juga membawa tamu VIP,” katanya.

 

Ia juga mencontohkan, dalam satu pemesanan blok hotel sebanyak 50 kamar, bisa terdiri dari sekitar 25 kamar untuk kru dan 25 kamar lainnya untuk tamu atau penonton dari luar negeri. Sementara itu, porsi wisatawan domestik yang menginap di kawasan tersebut disebut masih relatif sedikit.

 

Menghadapi perubahan kondisi pasar, pelaku usaha pariwisata diminta tidak hanya berorientasi pada target harga, tetapi juga mampu membaca pergerakan permintaan.

 

Dia mengajak seluruh pelaku usaha menjadikan MotoGP sebagai event berkelanjutan yang mampu memperkuat branding dan eksposur pariwisata Lombok.

“Kita sebagai pelaku usaha harus menjadikan event MotoGP ini sebagai event yang berkelanjutan dan menjadi branding untuk mengangkat eksposur Lombok,” katanya.

 

Dia menyampaikan bahwa seluruh pelaku usaha perlu bergandengan tangan, menyesuaikan harga dengan kondisi pasar, serta mampu mengidentifikasi dan menganalisis kebutuhan wisatawan.

 

“Jangan sampai demand-nya rendah, tetapi harga masih tinggi. Kita harus bisa menganalisis pasar dan kebutuhan pasar seperti apa,” tegasnya.

Ia menilai perubahan situasi global harus menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha dalam menentukan strategi bisnis. Jika terjadi penurunan permintaan wisatawan mancanegara, pelaku usaha harus mampu menyesuaikan harga maupun paket yang ditawarkan.(hil)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.