LOMBOK – Selama bulan suci Ramadan sampai Hari Raya Idul Fitri sampah membludak di Lombok Tengah. Sampah ini bersumber dari sampah rumah tangga dan lainnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lombok Tengah, Lalu Sarkin Junaidi mengatakan dari pada hari biasanya 50 ton sampah diangkut dan kini menjadi 60 ton per hari yang kemudian dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pengengat di Kecamatan Pujut.
“Kita tambahkan volume pengangkutannya, kalau di area wisata kan ada yang bertanggung jawab seperti di KEK itu Mandalika ada ITDC jadi yang kita tahu yang masuk ke TPA,” ungkapnya kepada media, Rabu (17/4/2024).
Kendati pihaknya saat ini hanya memiliki 20 dump truk pengangkut sampah maupun amrol, pihaknya terus berupaya lebih memaksimalkan pengangkutan sampah.
Selain itu saat ini untuk antisipasi, pihaknya akan membuka Blok B di TPA Pengengat mengingat di Blok A kapasitas penampungan sampah sudah mulai berkurang.
Ia berharap masyarakat ke depan sadar terkait pemilahan sampah baik organik ataupun non organik, hal tersebut karena dapat bermanfaat seperti untuk pembuatan pupuk kompos, budidaya maggot.
“Kita harapkan kedepan aktivitas pengolahan sampah lebih efektif dan masif sehingga residu atau sisa sampah yang terbuang akhir itu kecil,” katanya.
Sementara itu saat ini baru satu Desa Semparu yang memiliki tempat pengolahan sampah bahkan telah berdampak terhadap pemasukan desa, ia berharap jika tidak bisa diterapkan pada setiap desa di Loteng minimal pengolahan sampah serupa dapat dibuat di beberapa zona.
“Minimal ada di Zona Utara, Tengah, dan Selatan untuk mengurangi beban TPA Pengengat,” harapnya.
Sementara inovasi pengolahan sampah plastik sebagai campuran pembuatan bahan bangunan seperti, bata dan paving block belum ada yang diterapkan, namun pihaknya saat ini berusaha mengembangkan limbah plastik sebagai bahan bakar minyak. (nis)





