LOMBOK – Polemik keberadaan kelompok musik kecimol belakangan menjadi gejolak di tengah masyarakat di Pulau Lombok.
Akademisi musik dari Lombok Tengah, Lalu Gitan Prahana mengatakan keberadaan kecimol sebagai musik pengiring dalam tradisi nyongkolan merupakan kesalahan konsep berpikir.
Sebab, kecimol menurut dia, bukan untuk seni musik iring-iringan tradisi. “Itu sebenarnya persoalan, kecimol bukan musik tradisional kita. Itu adalah alat-alat moderen yang dimainkan untuk mengiringi prosesi adat. Dari sini saja kita sudah salah konsep,” tegasnya dalam pernyataan resmi diterima redaksi Koranlombok.id.
Gitan memaparkan bahwa, alat-alat yang digunakan seperti drum, keyboard, bass, snare, hingga gitar di kecimol, merupakan alat-alat modern dan bahkan merupakan alat-alat musik dari Eropa.
“Gitar itu, asal usulnya dari Spanyol dan tangga nada yang mereka mainkan itu juga menggunakan diatonik. Beda dengan musik tradisi yang memiliki pakem nada sendiri,” jelasnya.
Sehingga pihaknya berharap pemerintah jangan plin plan mengambil sikap. “Kecimol ini bukan alat musik tradisional kita, jadi pemerintah jangan plin plan menggambil sikap. Justru, disinilah fungsi pemerintah untuk menyediakan lapangan pekerjaan atau membina mereka untuk kembali ke musik tradisional,” kata Gitan.
Disisi lain, pihaknya juga mengatakan nyongkolan merupakan identitas dari tradisi sasak. Sehingga akan sangat disayangkan nilai-nilai adat, adap, etika dan aturan yang ada dalam tradisi tersebut, dirusak oleh konsep berkesenian yang salah.
“Namun jika dalihnya tentang kebebasan berekspresi, mustinya Kecimol ini harus dipindahkan ke konsep seni panggung, bukan malah menjadi iring-iringan prosesi tradisi yang nyongkolan seperti saat ini,” pungkasnya.(red)





