LOMBOK – Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri pada momen panen raya serentak di Desa Teruwai, Kecamatan Pujut mengucapkan rasa syukur karena produksi gabah pada musim tanam 2025 surplus alias melimpah.
Katanya, saat ini produksi gabah per hektarenya dapat mencapai 9 sampai 9,5 ton. Sementara total produksi gabah pada musim tanam pertama 2025 diklaim mencapai 120 ribu ton.
“Kita bersyukur bahwa surplus beras kita di Kabupaten Lombok Tengah semakin baik dan alhamdulilah harga gabah petani sudah cukup bagus, tentu apresiasi kepada pemerintah pusat nggih,” katanya kepada media, Senin (7/4/2025).
Beberapa waktu lalu, kata Pathul, cuaca hujan deras disertai dengan angin kencang membuat tanaman padi petani rusak di beberapa wilayah. Terkait hal itu dipastikan mempengaruhi produksi gabah di beberapa tempat.
“Itu kan persoalan sebelum menanam, maka varietas perlu dipikirkan, sistem pemupukan perlu dipelajari, maka tugas-tugas PPL itu melekat,” tegasnya.
Di tempat yang sama Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lombok Tengah, Zaenal Arifin mengatakan produksi gabah kering giling Lombok Tengah pada periode Januari sampai April 2025 sebesar 237.460 ton dan jika disetarakan dengan beras sebesar 135.245 ton.
“Kalau dibandingkan dengan kebutuhan beras kita 44.483 ton sehingga dari hasil produksi beras kita tadi itu maka surplus 90.762 ton,” klaimnya.
Pada tahun lalu diketahui hasil produksi gabah kering sedikit karena luas areal tanam yang menyusut akibat adanya dampak cuaca el nino dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman setiap hekatarenya atau disebut provitas.
“Kita masih belum bisa bicara tentang meningkat berapa persen karena baru separuh tahun, tapi dibandingkan dengan tahun lalu ini lebih tinggi sekarang karena provitas kita tinggi,” ujarnya.
Setiap hektare lahan sawah pada tahun lalu menghasilkan padi kering sebesar 50,47 kwintal sekarang meningkat sebesar 54,25 kwintal perhektare berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Kata Zaenal, beberapa waktu lalu varietas hibrida di sekiataran Desa Teruwai saat dipanen setiap hektarenya menghasilkan gabah kering sekitar 9,6 ton.
“Ini menunjukan sekaramg kalau kondisi iklim memungkinkan, tapi kendalanya satu gara angin kencang dan hujan lebat membuat rebah tapi masih bisa dipanen dan tidak berpengaruh banyak karena tertutupi dengan provitas kita yang bagus,” tutupnya.(nis)





