LOMBOK – Keberadaan Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Desa Barabali, Kecamatan Batukliang sampai saat ini belum difungsikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lombok Tengah. Padahal pembangunan menghabiskan anggaran milliaran.
Anggota Komisi I DPRD Lombok Tengah, M. Maulidi mengatakan pada saat rapat Banggar ia pernah menanyakan kapan target beroperasinya KIHT kepada Disperindag. Tapi belum mendapat jawaban yang memuaskan.
Sementara itu pada pertemuan selanjutnya, dirinya akan mempertegas kembali kepada Disperindag soal rencana pengelolaan KIHT tersebut secara detail.
“Coba nanti kita tanyakan pada saat rapat Badan Anggaran,” katanya kepada media, Selasa (19/8/2025).
Sementara itu diketahui saat ini memasuki musim panen tembakau dan mengalami penurunan harga, sebelumnya di atas Rp 6 juta rupiah perkwintal untuk tembakau rajang sekarang paling tinggi Rp 4,2 juta perkwintal.
“Karena stok dari perusahaan masih banyak sehingga di tahun ini ada pengurangan permintaan,” katanya.
Kata dia, dengan banyak petani tembakau di Lombok Tengah mengirimkan hasil panen ke gudang – gudang di Lombok Timur. Sementara di Lombok Tengah sendiri masih belum ada mitra lainnya untuk tempat para petani menjual hasil panen tembakau mereka.
Maulidi berharap adanya KIHT di Lombok Tengah dapat mengakomodir kebutuhan pasar para petani tembakau.
“Ini yang saya harapkan, pada rapat banggar pertama setelah dilantik sempat saya tanyakan tapi kan faktanya sampai sekarang masih belum diresmikan,” ujarnya.(nis)




