Penulis: Nurawalia / Mahasiswa UIN Mataram
PROGRAM Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif pemerintah yang memberikan makanan bergizi kepada siswa sekolah setiap hari. Program ini secara khusus bertujuan meningkatkan gizi siswa agar semangat belajar mereka melejit di sekolah. Menurut saya, MBG kini menjadi pemacu utama prestasi belajar siswa Indonesia di lingkungan sekolah secara aktif. Penerapan MBG berhasil membebaskan anak-anak sekolah dari kelaparan yang melemahkan proses belajar-mengajar, digantikan oleh semangat tinggi, pikiran jernih, serta nilai rapor membaik. Fakta terbaru meyakinkan saya bahwa asupan gizi dari MBG bukan sekadar hidangan harian, melainkan pendorong revolusioner bagi pendidikan Indonesia.
MBG meningkatkan nilai belajar siswa karena menyajikan asupan gizi lengkap penuh vitamin, protein, karbohidrat kompleks, serta mineral yang merangsang kerja otak secara optimal. Program ini mengatasi masalah kelaparan berkepanjangan pada ratusan ribu siswa kurang mampu dengan suplai gizi yang merata. Siswa di daerah terpencil yang dulu kelaparan dan kekurangan gizi kini mulai terpenuhi kebutuhannya, meski saya ragu apakah benar-benar merata. MBG berhasil menghapus jurang kesenjangan sehingga anak dari keluarga kurang mampu tidak lagi tertinggal jauh dari yang makmur.
MBG bukan beban anggaran negara, melainkan ladang emas investasi karena pemerintah menghemat miliaran rupiah dari biaya pengobatan kekurangan gizi di masa depan, sambil membentuk pekerja elite yang mendongkrak ekonomi. Gizi dari MBG mendorong skor ujian siswa naik 10-25%. Di tahun 2026, dengan jangkauan hingga 82 juta siswa, MBG memotivasi mereka tetap ke sekolah dan meningkatkan absensi secara nyata.
Namun, saya khawatir keberadaan MBG justru mengurangi bolos siswa hanya karena mereka wajib mengambil makanan di sekolah, sehingga kehadiran dan partisipasi belajar meningkat meski bukan murni karena gizi. Standar gizi yang ditawarkan belum sepenuhnya memenuhi kriteria ideal, dan distribusinya pun tidak merata di seluruh daerah. Bagi sebagian siswa, MBG adalah keberkahan yang mengusir kelaparan, tapi bagi yang lain, itu hanya cemilan tanpa gizi bermutu. Makanan Bergizi Gratis kini patut disorot karena pemilik dapur MBG lebih prioritas porsi Rp10.000 per porsi daripada standar gizi, sehingga semangat siswa redup dan hanya siswa yang benar-benar kelaparan yang merasakannya sebagai anugerah.
Program MBG dari pemerintah menargetkan gizi anak-anak sekolah, tetapi penerapan di lapangan justru jauh dari standar gizi, banyak siswa di sekolah menerima makanan bergizi gratis untuk pemenuhan gizi nyatanya makanan itu sekedar cemilan seperti kacang polong, dan makanan lainnya yang jelas-jelas standar gizinya tidak sesuai. MBG Sekarang disajikan dengan harga yang bahkan harganya di sesuaikan dengan harga eceran bahkan lebih tinggi, MBG yang awalnya bertujuan meningkatkan kualitas gizi dan nilai belajar siswa kini berubah menjadi program makanan bergizi gratis sesuai standar porsi Rp. 10.000 per satu porsi tanpa melihat apakah makanan itu sesuai standar gizi dan mampu meningkatkan tumbuh kembang siswa sekolah.
Program MBG terlepas dari standar porsi yang sudah di tetapkan BGN, terdapat hal-hal penting yang perlu di perhatikan dalam standar gizinya apalagi di tengah berita yang beredar banyak siswa yang mengalami keracunan MBG, program pemerintah sudah tepat untuk meningkatkan gizi siswa tetapi penerapan standar gizi perlu ditingkatkan dan perlu tindakan tegas agar program sesuai dengan keinginan, dapur-dapur MBG perlu di cek dan di perhatikan kelayakan jalanya apalagi program ini memotong dana anggaran dari berbagai dinas untuk keterlaksaannya, perlu adanya tindak tegas dan sangsi tegas terhadap penurunan standar gizi yang di distribusikan oleh dapur dan pengelola MBG.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah inisiatif pemerintah yang memberikan makanan bergizi kepada siswa sekolah setiap hari. Program ini secara khusus bertujuan meningkatkan gizi siswa agar semangat belajar melejit di sekolah. MBG kini menjadi pemacu utama prestasi belajar siswa Indonesia di lingkungan sekolah secara aktif. Penerapan MBG berhasil membebaskan anak-anak sekolah dari kelaparan yang melemahkan proses belajar-mengajar, digantikan oleh semangat tinggi, pikiran jernih, serta nilai rapor membaik. Asupan gizi dari MBG bukan sekadar hidangan harian, melainkan pendorong revolusioner bagi pendidikan Indonesia.
MBG meningkatkan nilai belajar siswa karena menyajikan asupan gizi lengkap penuh vitamin, protein, karbohidrat kompleks, serta mineral yang merangsang kerja otak secara optimal. Program ini mengatasi masalah kelaparan berkepanjangan pada ratusan ribu siswa kurang mampu dengan suplai gizi yang merata. Siswa di daerah terpencil yang dulu kelaparan dan kekurangan gizi kini mulai terpenuhi kebutuhannya, Meskiragu apakah benar-benar merata. MBG berhasil menghapus jurang kesenjangan sehingga anak dari keluarga kurang mampu tidak lagi tertinggal jauh dari yang makmur. MBG bukan beban anggaran negara, melainkan ladang emas investasi karena pemerintah menghemat miliaran rupiah dari biaya pengobatan kekurangan gizi di masa depan, sambil membentuk pekerja elite yang mendongkrak ekonomi. Gizi dari MBG mendorong skor ujian siswa naik 10-25%. Di tahun 2026, dengan jangkauan hingga 82 juta siswa, MBG memotivasi mereka tetap ke sekolah dan meningkatkan absensi secara nyata. Keberadaan MBG justru mengurangi bolos siswa hanya karena wajib mengambil makanan di sekolah, sehingga kehadiran dan partisipasi belajar meningkat meski bukan murni karena gizi.
Standar gizi yang ditawarkan belum sepenuhnya memenuhi kriteria ideal, dan distribusinya pun tidak merata di seluruh daerah. Bagi sebagian siswa, MBG adalah keberkahan yang mengusir kelaparan, tapi bagi yang lain, itu hanya cemilan tanpa gizi bermutu. Makanan Bergizi Gratis kini patut disorot karena pemilik dapur MBG lebih memprioritaskan porsi Rp10.000 per porsi daripada standar gizi, sehingga semangat siswa redup dan hanya siswa yang benar-benar kelaparan yang merasakannya sebagai anugerah. Program MBG dari pemerintah menargetkan gizi anak-anak sekolah, tetapi penerapan di lapangan justru jauh dari standar gizi. Banyak siswa di sekolah menerima makanan bergizi gratis untuk pemenuhan gizi, nyatanya makanan itu sekadar cemilan seperti kacang polong dan makanan lainnya yang jelas-jelas standar gizinya tidak sesuai.
MBG sekarang disajikan dengan harga yang disesuaikan dengan harga eceran bahkan lebih tinggi. MBG yang awalnya bertujuan meningkatkan kualitas gizi dan nilai belajar siswa kini berubah menjadi program makanan bergizi gratis sesuai standar porsi Rp10.000 per satu porsi tanpa melihat apakah makanan itu sesuai standar gizi dan mampu meningkatkan tumbuh kembang siswa sekolah.
Program MBG terlepas dari standar porsi yang sudah ditetapkan BGN, terdapat hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam standar gizinya apalagi di tengah berita yang beredar banyak siswa yang mengalami keracunan MBG. Program pemerintah sudah tepat untuk meningkatkan gizi siswa tetapi penerapan standar gizi perlu ditingkatkan dan perlu tindakan tegas agar program sesuai dengan keinginan. Dapur-dapur MBG perlu dicek dan diperhatikan kelayakan jalannya apalagi program ini memotong dana anggaran dari berbagai dinas untuk keterlaksanaannya. Perlu adanya tindakan tegas dan sanksi tegas terhadap penurunan standar gizi yang didistribusikan oleh dapur dan pengelola MBG.





