Ekonomi NTB Tumbuh Tinggi: Bangga, tetapi Jangan Lengah

oleh -361 Dilihat
DOK PRIBADI SUPIANDI

 

 

Oleh: Supiandi

(Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis UNU NTB)

 

Kabar baik itu datang dalam bentuk angka yang mencengangkan. Badan Pusat Statistik baru saja merilis data teranyar yang mencatat perekonomian Nusa Tenggara Barat pada Triwulan I 2026 melesat tumbuh sebesar 13,64 persen secara tahunan. Angka ini menempatkan NTB di posisi kedua dengan laju pertumbuhan tertinggi secara nasional, jauh melompati rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,61 persen. Geliat ini terasa di berbagai lini, mulai dari aktivitas hilirisasi pada industri pengolahan logam dan pemurnian yang tumbuh besar hingga 60,25 persen, deru sektor pertambangan yang bangkit sebesar 31,80 persen, hingga aktivitas pasar, pariwisata, dan UMKM yang kembali berdenyut. Angka-angka statistik ini bukan fatamorgana. Ia adalah cerminan dari kapasitas ekonomi daerah yang menguat dan proses transformasi yang mulai terlihat. Pertumbuhan ekonomi bukan hanya urusan statistik, tetapi juga urusan rasa percaya diri publik. Lompatan yang tinggi dari kondisi Triwulan I 2025 yang sempat terkontraksi minus 1,47 persen ini membuktikan satu hal: NTB memiliki daya resiliensi yang luar biasa untuk bergerak maju.

 

Namun, di tengah capaian yang gemilang ini, ruang publik kita sering kali terbelah menjadi dua kutub ekstrem. Ada yang terlalu sinis dan menganggap angka belasan persen itu hanya bualan di atas kertas. Ada pula yang terlalu puas hingga terjebak dalam euforia yang melalaikan. Kedua sikap ini sama-sama tidak produktif. Kabar baik ekonomi tidak boleh dimatikan oleh sinisme, tetapi juga tidak boleh dibiarkan menjadi euforia kosong. Kita harus membaca pertumbuhan ini dengan matang. Jika kita membedah postur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) NTB saat ini, kontributor utama lonjakan fantastis tersebut nyatanya masih sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti lonjakan ekspor luar negeri pasca relaksasi konsentrat tambang serta operasional industri pengolahan skala besar. Sifat dari pertumbuhan yang ditopang sektor padat modal seperti ini adalah agregat. Ia dapat mengangkat angka makro secara cepat, tetapi belum tentu otomatis mengalir merata ke ruang hidup masyarakat.

Baca Juga  Seorang Wanita Ditemukan Tewas di Dalam Kamar Kos

 

Kita juga tidak boleh lupa bahwa secara kumulatif sepanjang tahun 2025, ekonomi NTB hanya tumbuh 3,22 persen akibat volatilitas sektor tambang. Fakta ini memberi pelajaran penting bahwa pertumbuhan tinggi perlu dibaca sebagai momentum, bukan sebagai jaminan permanen. Tantangan terbesar kita hari ini adalah bagaimana tetesan kue ekonomi dari sektor-sektor besar tersebut bisa merembes lebih luas ke sektor padat karya domestik, ke pertanian rakyat, ke warung warung kelontong, ke nelayan, ke pelaku jasa pariwisata, dan ke UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat. Justru karena pertumbuhan sedang tinggi, kita harus memastikan manfaatnya makin luas. Kita tidak boleh lengah. Pertumbuhan yang tinggi adalah momentum, tetapi struktur ekonomi lokal yang inklusif dan berkeadilan adalah tujuan akhir yang sesungguhnya.

 

Di sinilah formula “Gerakan Bersama” harus diaktifkan. Masyarakat NTB tidak boleh memposisikan diri hanya sebagai penonton di pinggir lapangan yang sibuk berdebat tentang persentase angka rilis BPS. Kita adalah pemain kunci. Publik memiliki kekuatan besar untuk memperkuat dan mengunci momentum pertumbuhan 13,64 persen ini agar riak ekonominya tidak menguap begitu saja ketika siklus tambang kembali berfluktuasi. Caranya dapat dimulai dari tindakan sederhana, tetapi berdampak nyata. Bangga membeli dan menggunakan produk UMKM lokal NTB, mempromosikan destinasi wisata lokal melalui media sosial, memprioritaskan penggunaan jasa dari sesama warga NTB, serta memperkuat jejaring ekonomi antarpelaku lokal. Pertumbuhan tinggi adalah awal. Gerakan ekonomi lokal adalah jawabannya. Ketika uang masyarakat terus berputar di dalam ekosistem lokal, kita sedang memperpanjang napas pertumbuhan itu sendiri dan memastikan penyerapan tenaga kerja berjalan lebih optimal di tingkat akar rumput.

 

Gerakan ekonomi lokal itu menjadi semakin penting ketika kita melihat denyut pariwisata NTB yang mulai menunjukkan pemulihan kuat. Data BPS NTB mencatat bahwa jumlah wisatawan nusantara pada Maret 2026 mencapai 1.393.460 orang, naik 34,64 persen dibanding Februari 2026 yang sebanyak 1.034.930 orang. Dibandingkan Maret 2025, kunjungan wisatawan nusantara juga meningkat 32,46 persen. Angka ini menunjukkan bahwa pergerakan manusia, belanja perjalanan, dan aktivitas konsumsi domestik mulai kembali mengalir ke ruang ekonomi daerah. Pariwisata adalah sektor yang sangat dekat dengan denyut masyarakat karena efeknya dapat langsung dirasakan oleh pelaku transportasi lokal, penginapan, kuliner, perdagangan kecil, ekonomi kreatif, hingga pekerja informal di kawasan wisata.

Baca Juga  Dikes Cek Berkala Sampel MBG di Lombok Tengah

 

Yang menggembirakan, peningkatan tersebut tidak hanya terjadi pada satu wilayah. Seluruh kabupaten dan kota di NTB mencatat kenaikan kunjungan wisatawan nusantara pada Maret 2026 dibanding bulan sebelumnya. Lombok Timur mencatat kenaikan absolut tertinggi, yaitu bertambah 82.245 kunjungan, disusul Kota Mataram sebanyak 53.083 kunjungan, dan Lombok Barat sebanyak 52.147 kunjungan. Secara persentase, Kabupaten Bima mencatat lonjakan tertinggi sebesar 78,54 persen, disusul Kabupaten Sumbawa sebesar 74,66 persen. Sebaran ini memberi pesan penting bahwa pariwisata NTB tidak boleh hanya dibaca dari satu atau dua destinasi utama. Potensi pertumbuhan mulai bergerak lebih luas, sehingga kebijakan pariwisata perlu semakin diarahkan untuk memperkuat konektivitas, kualitas destinasi, kebersihan kawasan wisata, serta keterlibatan pelaku lokal di berbagai wilayah.

 

Sinyal positif juga terlihat dari kunjungan wisatawan mancanegara. Melalui Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, jumlah wisatawan mancanegara pada Maret 2026 tercatat sebanyak 6.428 orang, naik 24,72 persen dibanding Februari 2026 dan meningkat 18,14 persen dibanding Maret 2025. Wisatawan mancanegara yang datang didominasi oleh regional Eropa sebanyak 2.642 orang, disusul ASEAN sebanyak 2.472 orang. Data ini memperlihatkan bahwa NTB masih memiliki daya tarik kuat di mata pasar internasional. Namun, daya tarik itu perlu terus diterjemahkan menjadi pengalaman wisata yang berkualitas, aman, bersih, dan terhubung dengan produk lokal. Dengan cara itu, belanja wisatawan tidak hanya berhenti di hotel besar atau operator tertentu, tetapi juga mengalir ke masyarakat sekitar destinasi.

 

Meski demikian, optimisme ini tetap harus dibaca dengan hati hati. Tingkat Penghunian Kamar hotel berbintang pada Maret 2026 tercatat sebesar 31,26 persen, turun tipis 0,52 poin dibanding Februari 2026, meskipun lebih tinggi 4,90 poin dibanding Maret 2025. Sementara itu, Tingkat Penghunian Kamar hotel nonbintang dan akomodasi lainnya mencapai 20,84 persen, naik 0,84 poin dari bulan sebelumnya, tetapi relatif sama dibanding Maret 2025. Artinya, jumlah wisatawan memang meningkat, tetapi pekerjaan rumah kita belum selesai. Tantangan berikutnya adalah memperpanjang lama tinggal wisatawan, memperbesar belanja per kunjungan, meningkatkan kualitas layanan, serta memastikan rantai pasok pariwisata lebih banyak menyerap produk dan tenaga kerja lokal.

Baca Juga  Nelayan Pantai Areguling Diintimidasi dan Digusur Investor

 

Dengan membaca data ini, menjadi semakin jelas bahwa pertumbuhan ekonomi NTB tidak cukup hanya dirayakan sebagai angka makro. Di balik pertumbuhan 13,64 persen tersebut, ada pekerjaan besar untuk menyambungkan sektor-sektor besar seperti tambang dan industri pengolahan dengan sektor yang lebih padat karya seperti pariwisata, perdagangan, pertanian, perikanan, dan UMKM. Pariwisata dapat menjadi salah satu jembatan penting karena ia menghubungkan citra daerah, mobilitas orang, konsumsi lokal, dan kesempatan kerja secara lebih langsung. Karena itu, ajakan untuk bangga terhadap ekonomi NTB harus berjalan bersama dengan kewaspadaan agar manfaatnya tidak terkonsentrasi, melainkan semakin menyebar ke desa wisata, pelaku kuliner, pengrajin, pengemudi lokal, nelayan, petani, pekerja hotel, dan anak muda kreatif yang sedang membangun usaha dari daerahnya sendiri.

 

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah modal sosial yang mahal untuk membangun kepercayaan diri kolektif NTB sebagai daerah yang semakin kompetitif di kancah nasional. NTB tidak kekurangan momentum. Yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan memperbesar lingkaran manfaat. Kita sedang berada di jalur yang benar untuk naik kelas, beranjak dari fase koreksi menuju fondasi transformasi ekonomi yang lebih kokoh. Namun, lompatan itu hanya akan menjadi sejarah yang bermakna jika kita tidak berhenti pada kekaguman terhadap angka, melainkan bergerak bersama untuk membuat dampaknya lebih nyata dalam kehidupan masyarakat. NTB sedang bergerak. Jangan hanya menonton angka. Ikutlah membuat manfaatnya lebih luas.

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.