LOMBOK — Pesona Savana Bale Tepak Batujai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah mulai menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menarik perhatian pengunjung. Kawasan ini tidak hanya menawarkan panorama hamparan savana, tetapi juga menyuguhkan pemandangan matahari terbit (sunrise), matahari terbenam (sunset), hingga potensi agrowisata yang melibatkan masyarakat sekitar.
Pengelola Savana Bale Tepak Batujai Akbar Tanjung mengatakan, jumlah pengunjung setiap harinya cukup ramai. Lonjakan kunjungan biasanya terjadi pada Kamis hingga Minggu.
“Untuk pengunjung di Savana Bale Tepak Batujai setiap harinya membeludak,” tuturnya kepada Koranlombok.id, Senin 27 Juli 2026.
Menurut dia, salah satu daya tarik utama yang ditawarkan kepada wisatawan adalah panorama sunrise dan sunset. Selain itu, pengelola tengah mendorong pengembangan agrowisata dengan mengajak masyarakat sekitar menanam semangka di sisi barat kawasan savana.
Nantinya, wisatawan yang datang dapat menikmati pengalaman memetik semangka secara langsung. Konsep tersebut diharapkan menjadi daya tarik tambahan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Selain panorama alam dan agrowisata, kawasan tersebut memiliki sebuah pohon yang oleh para pengunjung dijuluki sebagai “Pohon Jomblo”. Pohon itu menjadi salah satu ikon di Savana Bale Tepak Batujai karena berdiri sendiri di tengah hamparan savana.
Keberadaan pohon tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung. Menurut Akbar, pohon tersebut tetap bertahan meski debit air di kawasan sekitar mengalami kenaikan.
Savana Bale Tepak Batujai mulai dikenal luas setelah pada 2022 Akbar bersama sejumlah temannya melakukan kegiatan berkemah di kawasan tersebut. Mereka kemudian mengabadikan keindahan alam Savana Bale Tepak Batujai dan membagikannya melalui media sosial.
Unggahan tersebut kemudian menarik perhatian masyarakat hingga kawasan itu semakin dikenal dan menjadi tujuan wisata baru bagi warga.
Untuk menikmati keindahan Savana Bale Tepak Batujai, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk khusus. Wisatawan hanya membayar biaya parkir sebesar Rp5.000.
Akbar mengatakan, sebagian hasil yang diperoleh dari kawasan wisata tersebut disumbangkan untuk kegiatan sosial, termasuk kepada masjid di sekitar kawasan Savana Bale Tepak Batujai dan anak yatim.
Selain wisata alam dan agrowisata, Savana Bale Tepak Batujai juga memiliki potensi ekowisata. Kawasan tersebut menjadi salah satu lokasi persinggahan burung migrasi yang berasal dari Australia.
Burung-burung migrasi tersebut disebut singgah di kawasan pepohonan Savana Bale Tepak Batujai dalam perjalanan migrasinya. Fenomena tersebut menjadi daya tarik bagi wisatawan yang memiliki minat terhadap fotografi alam dan pengamatan burung.
“Dulu ada beberapa fotografer dari Universitas Mataram yang pernah mengabadikan momen burung tersebut saat bermigrasi,” ujarnya.
Popularitas Savana Bale Tepak Batujai juga mulai menjangkau wisatawan dari luar daerah. Tidak hanya wisatawan lokal, sejumlah figur publik disebut pernah berkunjung ke kawasan tersebut, di antaranya Pasha Ungu dan Caca Kalisa.
Wisatawan mancanegara juga mulai datang berkunjung. Hal itu tidak terlepas dari kolaborasi pengelola dengan pelaku wisata lain, termasuk pengelola Monkey Cap di Desa Prabu.
“Untuk wisatawan luar negeri juga ada karena kita berkolaborasi dengan teman yang mengelola wisata bernama Monkey Cap di Desa Prabu,” katanya.
Dengan potensi panorama alam, agrowisata, dan ekowisata yang dimiliki, Savana Bale Tepak Batujai dinilai memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai destinasi wisata alternatif di Lombok Tengah. Pengembangan tersebut sekaligus dapat diarahkan untuk memperkuat keterlibatan masyarakat sekitar dan mendorong manfaat ekonomi yang lebih luas bagi warga.(hil/nis)





