LOMBOK — Antrean pembelian bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU di Praya, Lombok Tengah tak kunjung berakhir. Begitu juga pada Selasa, 4 Agustus 2026 terpantau membludak. misalnya di SPBU 54.835.04 Biao, antrean panjang terjadi baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Kondisi sama juga di SPBU 54.835.01 Praya. Kendaraan mengantre hingga keluar area SPBU.
Dimana, panjang antrean diperkirakan mencapai sekitar 200 meter. Akibatnya, warga harus menunggu selama berjam-jam untuk mendapatkan BBM.
Laporan jurnalis Koranlombok.id di lapangan, antrean kendaraan baik roda dua maupun roda empat mengular hingga sampai luar area SPBU. Hal ini menimbulkan kemacetan. Kondisi ini sudah terjadi berbulan-bulan. Pertanyaan, kemana pemerintah pada saat begini?
Manager Operasional SPBU 54.835.01 Praya, Ahmad Yani mengungkapkan awal mula BBM langka pada saat terjadi peranga Iran vs Amerika.
Kata Yani, akar masalah dari antrean panjang ini adalah adanya pembatasan stok dari pihak Pertamina. Dia menjelaskan, dalam kondisi normal SPBU yang dikelolanya bisa menerima pasokan antara 25 hingga 28 ribu liter per hari. Tapi dalam beberapa waktu terakhir, jumlah tersebut dipangkas secara drastis oleh pihak Pertamina.
“Normalnya penjualan kita di sini 25 ribu liter. Kalau sekarang sekarang kan dikasih kadang-kadang kan kita dikasih 8 setelah 1 hari lagi dikasih 16,” ungkapnya.
Ahmad Yani menambahkan, pengurangan jatah tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari terutama BBM jenis Pertalite, sehingga mengakibatkan membludaknya antrean bahkan banyak masyarakat yang mengeluh karena terlalu lama menunggu.
“Banyak masyarakat merasa kecewa,” ceritanya.
Untuk meminimalisir kekecewaan warga dan memastikan distribusi lebih merata, pihak SPBU akhirnya memberlakukan kebijakan pembatasan jumlah pembelian bagi setiap kendaraan. Pembatasan ini menyasar kendaraan roda dua maupun roda empat atau lebih.
“Rata-rata keluhan mereka ini sudah pas nunggu lama terus pas gilirannya habis. Makanya kita batasi kendaraan besar kasih 200 (ribu), sepeda motor maksimal Rp 50.000,” tegasnya.
Sementara, seorang sopir truk Lalu Basarudin mengatakan, ia yang sehari-hari mengantar pasir ke wilayah selatan mengeluhkan kondisi ini. Ia harus mengantre hingga 1,5 jam.
“Kita sampai sekarang belum dapat beli, makanya ngantre sekian meter sampai sekarang,” katanya mengeluh di hadapan media, Selasa 4 Agustus 2026.
Basarudin berharap pemerintah agar segera mencari solusi atas permasalahan distribusi BBM ini. Kelangkaan yang sudah berlangsung lama tidak ada solusi dari pemerintah.
Adi seorang pedagang yang ditemui sedang mengantre di Pertamina mengungkapkan bahwa ia baru mengantre sekitar 15 menit. Namun ia memperkirakan antrean untuk mendapatkan BBM sekitar 1 jam.
Adi menuturkan, bahwa tujuannya mengisi BBM untuk keberlangsungan menjual barang dagangannya ke pasar. Dia mengakui bahwa kondisi pada minggu sebelumnya jauh lebih parah, menunggu hingga berjam-jam.(hil)





