Sate Ayam Berujung Petaka, 22 Penerima Termasuk Balita Diduga Keracunan MBG di Bujak

oleh -68 Dilihat
FOTO HILMI JURNALIS KORANLOMBOK.ID/ Ini bagian Depan SPPG Bujak Satu, Desa Batukliang, Kecamatan Lombok Tengah.

 

 

LOMBOK – Setidaknya ada 22 orang penerima manfaatn program makan bergizi gratis (MBG) diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan dari MBG di Desa Bujak, Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah. Peristiwa ini bermula setelah penerima manfaat menyantap MBG yang disediakan Salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Kamis 30 Juli 2026. Mereka kemudian timbul gejala mencret dan sakit perut melilit.

 

Kendati demikian, sampai sekarang penyebab pasti kejadian tersebut masih belum diketahui. Pihak Dinas Kesehatan Lombok Tengah sudah mengambil sampel makanan di bank sampel SPPG untuk dilakukan penelitian terkait kejadian ini.

 

Orang tua penerima manfaat MBG, Januar mengatakan anaknya yang masih balita mengalami diare sehari setelah diduga mengkonsumsi makanan dari program tersebut. Menurut Januar, gejala baru muncul pada keesokan harinya setelah makanan dibagikan.

 

“Kamis kita terima, Jumat paginya itu baru ada reaksi,” ungkap Januar kepada Koranlombok.id, Selasa, 4 Agustus 2026.

 

Ia mengaku, tidak hanya anaknya yang mengalami keluhan serupa. Berdasarkan pengakuan sejumlah orang tua penerima manfaat, beberapa balita lainnya juga mengalami diare setelah mengonsumsi makanan yang dibagikan.

“Kebetulan anak saya kan masih balita, dan ibu-ibu yang memiliki balita juga pengakuannya sama mencret-mencret. Nah, untuk yang tingkat SD, PAUD, TK itu ndak tahu,” bebernya.

Januar belum mengetahui secara pasti jumlah balita yang mengalami kondisi serupa, informasi yang diterimanya hanya berdasarkan cerita dari sesama orang tua.

 

Baca Juga  Angka Kehamilan Anak di NTB Meroket

“Ndak pernah saya gali informasi yang lain. Cuma sebatas mulut ke mulut, ‘Oh saya kena juga,’ kayak gitu. Sebatas itu dah,” ceritanya.

 

Dia menuturkan, beberapa penerima manfaat sempat mendatangi Puskesmas Pembantu (Pustu) untuk mendapatkan penanganan medis setelah mengalami sakit perut.

 

Menurutnya, pihak dapur penyedia MBG juga telah mendatangi sejumlah sekolah untuk menyampaikan permohonan maaf serta menawarkan pengobatan bagi penerima manfaat yang masih mengalami keluhan.

 

“Kemarin sih ada sempat yang membawa diri langsung ke Pustu. Nah, dan pihak dapur sudah mengklarifikasi, meminta maaf juga katanya sih. Dan siap untuk biaya pengobatannya,” ungkap dia.

 

Berdasarkan informasi yang diperoleh dia, salah seorang penerima manfaat bahkan dinyatakan mengalami keracunan setelah menjalani pemeriksaan. Januar menduga kondisi tersebut berkaitan dengan menu sate ayam yang dibagikan pada hari itu.

 

“Kalau saya lihat menunya waktu itu kan sate. Sate ayam, bumbunya itu kan dari kacang. Nah, kalau kita lihat kacangnya itu mentah, ndak digoreng dulu gitu. Dan baunya sudah ndak enak,” sebutnya.

 

Januar menambahkan, makanan MBG dibagikan pada Kamis sedangkan gejala mulai dirasakan penerima manfaat pada Jumat dini hari.

Balita dan ibu hamil merupakan kelompok yang menerima distribusi makanan paling akhir sehingga makanan baru diterima sekitar pukul 10.00 Wita atau lebih.

 

 

Sikap BGN, Operasional Dapur MBG Dihentikan Sementara

Terpisah, Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Lombok Tengah, Muhammad Ihsan membenarkan adanya dugaan keracunan penerima manfaat MBG dari SPPG Bujak satu.

Baca Juga  Mobil Pikap Serempet Odong-Odong di Bypass Batujai

Akibat dari kejadian ini, Operasional MBG Satuan Pelayanan Gizi (SPG) Bujak satu dihentikan sementara (di-hold) pasca munculnya dugaan kasus keracunan makanan yang menimpa sejumlah penerima manfaat.

 

Ihsan menyampaikan bahwa langkah penghentian sementara ini diambil berdasarkan arahan langsung dari pimpinan pusat dan Kantor Regional (Karek), sembari menunggu proses investigasi serta konfirmasi resmi.

 

“Untuk sementara, arahan dari pimpinan adalah menghentikan dulu operasional, termasuk pembelanjaan bahan baku dan distribusi makanan. Kita masih menunggu petunjuk dan surat resmi dari pusat,” ujarnya kepada media, Selasa 4 Agustus 2026.

 

Ihsan menegaskan, kejadian dugaan tersebut masih dalam pelaporan pendahuluan disampaikan ke KPPG bahwa telah terjadi kejadian tersebut. Ia menegaskan kejadian dugaan keracunan belum bisa untuk dipastikan bahwa keracunan disebabkan oleh MBG.

 

“Kita belum bisa untuk menyampaikan keracunan atau apa. Namun, ini masih dalam proses penyelidikan, pengecekan. Setelah keluar hasilnya baru kita sampaikan. Ini kan udah masuk laporan ke pusat dan masih menunggu informasi selanjutnya,” ungkapnya.

 

Ia menjelaskan, bahwa SPPG Bujak Satu penerima manfaat sekitar 2.000 dari tingkat TK hingga SMA. “Kemarin Kamis dapat laporan Hari Sabtu, 1 Agustus 2026 dari Kepala SPPG bahwa mendapatkan laporan H+ 1 setelah makan MBG sakit perut, makanya sedang didalami bang apakah karena makan MBG atau ada hal lain,” jelasnya.

 

 

Dikes Loteng Ambil Sampel

Baca Juga  Warga Turun Demo, Kades Bonder Dituduh jadi Kontraktor di Desa

Serveiler Dinas Kesehatan Lombok Tengah, Salman yang dijumpai saat sedang mengambil sampel di SPPG Bujak Satu mengatakan, pihaknya sedang melakukan pengamanan sampel dikarenakan timnya yang ada di Puskesmas tidak menemukan warga.

 

 

“Kita mau mengamankan bank sampel soalnya tim kami yang di Puskesmas tidak menemukan sampel di masyarakat, makanya kami amankan sampel di bank sampel SPPG,” bebernya.

 

Ia menjelaskan tujuannya datang ke SPPG untuk memastikan keamanan pangan.  “Kita ke sini untuk keamanan pangan. Jadinya kita tidak bisa bilang bahwa kejadian itu merupakan keracunan, nanti hasil lab yang membuktikan,” tegasnya.

 

Salman mengatakan, sampel yang diamankan berupa sate beserta bumbunya, nasi, tahu, timun dan semangka yang merupakan menu pada Kamis 30 Juli 2026 sebelum kejadian .

 

Menurutnya, menu MBG pada hari tersebut secara kasat mata sudah sesuai dengan aturan. “Kalau memenuhi standar gizi mungkin ahli gizinya yang lebih paham,” katanya.

 

Setelah mengamankan sampel, pihaknya kemudian akan membawa ke BPOM Mataram. Katanya, sekitar 12 orang yang terindikasi dugaan keracunan yang sudah berobat ke Pustu Bujak dan ada juga yang berobat ke rumah sakit.

“Saya dapat info juga ada yang ke rumah sakit. Totalnya yang saya dapat info semuanya ada 22 orang,” ungkap Salman.

Sampai berita ini ditayangkan, pihak SPPG belum berhasil dikonfirmasi. Dicari di tempat operasional SPPG tidak ada.(hil)

 

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.