Saatnya NTB Memanen Investasi

oleh -83 Dilihat
DOK PRIBADI SUPIANDI

Penulis: Supiandi
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Bisnis UNU NTB

banner 1080x1350

Ketika investasi yang masuk ke Nusa Tenggara Barat menembus Rp33,73 triliun hanya dalam enam bulan pertama 2026 atau setara 51,26 persen dari target tahunan Rp64,83 triliun, menurut data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi NTB, pertanyaan yang layak diajukan publik bukan lagi apakah investor tertarik datang ke Bumi Gora. Pertanyaannya sudah bergeser: apa yang sebenarnya akan dipanen NTB dari derasnya modal tersebut?
Angka itu bukan angka kecil. Capaian semester I 2026 jauh melampaui pencapaian periode yang sama tahun sebelumnya, yang belum menyentuh seperempat target. Kepala DPMPTSP NTB, Irnadi Kusuma, menyebut perkembangan itu “sangat positif”. Realisasi ditopang investasi sektor tambang senilai Rp11,977 triliun yang terpusat di Kabupaten Sumbawa Barat, ditambah kenaikan investasi UMKM yang mencapai Rp496,67 miliar, tumbuh 22,28 persen dibanding semester I 2025.
NTB Semakin Menarik bagi Investor
Deretan angka ini adalah bukti kepercayaan. Ekonomi NTB pada triwulan I 2026 tumbuh 13,64 persen secara tahunan, tertinggi kedua secara nasional setelah Maluku Utara, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB, ditopang lonjakan industri pengolahan smelter Amman Mineral sebesar 60,25 persen dan sektor pertambangan 31,80 persen. Bahkan pada triwulan II 2026, ketika relaksasi ekspor konsentrat tembaga berakhir, ekonomi NTB tetap tumbuh 7,41 persen, masih posisi kedua nasional, dengan struktur pertumbuhan yang mulai lebih merata: pertanian, perikanan, jasa keuangan, perdagangan, hingga akomodasi dan makan minum semuanya tumbuh positif sepanjang semester I.
Di balik angka-angka itu, pemerintah pantas diapresiasi. Kemudahan perizinan, penataan infrastruktur, promosi investasi, dan kepastian usaha adalah pekerjaan panjang yang tidak instan. Tetapi besarnya investasi hanyalah tanda kepercayaan; besarnya manfaat investasi itulah ukuran keberhasilan berikutnya. Modal yang datang baru merupakan awal cerita.
Dari Berapa yang Masuk ke Apa yang Tinggal
Pertanyaan publik perlu digeser: dari “berapa investasi yang masuk” menjadi “apa yang ditinggalkan investasi itu bagi NTB”. Yang harus tinggal bukan hanya pabrik dan smelter, melainkan lapangan kerja, keterampilan tenaga kerja lokal, pemasok, UMKM, teknologi, dan nilai tambah yang terus berputar di daerah. Investasi besar akan kehilangan sebagian maknanya jika hanya tercatat sebagai arus modal yang lewat, tanpa jejak ekonomi yang tumbuh di sekitarnya.

Baca Juga  FORSISMA dan Penerima Beasiswa Madani Tambal Jalan Rusak Kabupaten

Panen Pertama: Lapangan Kerja dan Keterampilan
Panen paling nyata dari investasi adalah pekerjaan. Smelter tembaga dan pemurnian logam mulia PT Amman Mineral Nusa Tenggara di Sumbawa Barat, misalnya, tercatat menyerap sekitar 37.000 pekerja bersama mitra bisnisnya, dan 98 persen di antaranya 35.776 orang adalah tenaga kerja lokal, menurut Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi NTB. Lebih dari 12.000 karyawan telah mengikuti program pelatihan, dan 223 orang meraih sertifikasi profesional. Hasilnya mulai terasa: Tingkat Pengangguran Terbuka NTB turun ke 2,99 persen pada Februari 2026, dengan jumlah penduduk bekerja bertambah 51.200 orang dibanding tahun sebelumnya, menurut BPS.
Namun pertanyaannya harus dinaikkan levelnya: bukan sekadar berapa pekerja terserap, melainkan jenis pekerjaan apa yang tercipta dan keterampilan apa yang diwariskan. Modal boleh datang dari luar, tetapi kemampuan harus semakin banyak tinggal di dalam daerah, lewat pendidikan vokasi, SMK, dan balai latihan kerja yang terhubung langsung dengan kebutuhan investor.
Panen Kedua: UMKM Masuk ke Orbit Investasi
Kenaikan realisasi investasi UMKM sebesar 22,28 persen pada semester I 2026 dari Rp406,19 miliar menjadi Rp496,67 miliar adalah sinyal bahwa pelaku usaha kecil di NTB mulai ikut bergerak seiring derasnya modal besar yang masuk. Pemerintah provinsi bahkan menargetkan realisasi investasi UMKM menembus Rp1 triliun hingga akhir 2026 melalui pendampingan, digitalisasi usaha, dan perluasan akses pembiayaan.
Tetapi target ini baru langkah awal. UMKM NTB tidak harus menjadi investor besar untuk ikut menikmati investasi besar, mereka harus masuk ke rantai pasoknya: menjadi pemasok bahan baku, jasa logistik, katering, hingga kebutuhan operasional proyek. Pengembangan pemasok, kurasi, standardisasi mutu, dan sertifikasi adalah pekerjaan rumah berikutnya agar UMKM tidak hanya menyaksikan proyek besar dari luar pagar.
Panen Ketiga: Hilirisasi dan Nilai Tambah
NTB berlimpah komoditas: mineral, hasil laut, hasil pertanian. Tantangannya bukan hanya menarik investasi untuk mengeksploitasi atau memindahkan komoditas itu, melainkan mengolahnya lebih jauh di dalam daerah. Pemerintah NTB tengah mempercepat hilirisasi lima komoditas kelautan seperti garam, rumput laut, udang vaname, tuna, dan cakalang yang mendorong kontribusi sektor perikanan terhadap PDRB naik dari sekitar Rp7,8 triliun pada 2024 menjadi Rp8,04 triliun pada 2025, menurut Dinas Kelautan dan Perikanan NTB.
Rumput laut adalah contoh paling gamblang mengapa hilirisasi penting. Indonesia adalah produsen rumput laut terbesar kedua dunia setelah Tiongkok, namun berdasarkan data Kementerian Perindustrian, sekitar 66,6 persen ekspor rumput laut nasional masih berupa bahan mentah, hanya sekitar sepertiga yang sudah diolah menjadi karagenan atau agar-agar bernilai tambah tinggi. Pola serupa berisiko terjadi di NTB jika hilirisasi hanya berhenti pada slogan. Jangan hanya mengundang modal untuk mengambil komoditas; undang modal untuk menambah nilainya dari bahan baku, pengolahan, kemasan, hingga ekspor produk jadi.
Panen Keempat: Membangun Mesin Ekonomi di Luar Tambang
Tambang adalah kekuatan ekonomi NTB hari ini, dan itu bukan sesuatu yang perlu disangkal. Namun angka pertumbuhan triwulan II 2026 justru memberi sinyal penting: begitu relaksasi ekspor konsentrat berakhir, ekonomi NTB tetap tumbuh 7,41 persen karena sektor-sektor riil lain, pertanian, perikanan, jasa keuangan, pariwisata ikut menopang. Kepala BPS NTB, Wahyudin, menyebut struktur pertumbuhan NTB “semakin sehat” karena tidak lagi bergantung tunggal pada tambang. Produksi padi pada triwulan I 2026 saja melonjak menjadi 577,24 ribu ton gabah kering giling, naik hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama pada 2025. Tambang memberi tenaga hari ini; diversifikasi memberi ketahanan untuk masa depan.
Manfaat yang Harus Menjalar ke Desa
Pertanyaan berikutnya: seberapa jauh investasi besar ini menggerakkan ekonomi di luar kawasan proyek? Salah satu jawabannya tampak pada angka kemiskinan. BPS NTB mencatat persentase penduduk miskin turun menjadi 11,38 persen pada September 2025 atau setara 637.180 orang, turun baik di perkotaan maupun perdesaan, dengan penurunan di desa yang lebih dalam dibanding kota. NTB bahkan masuk sembilan besar provinsi dengan penurunan kemiskinan tertinggi secara nasional sepanjang 2025. Pemerintah Provinsi NTB memperkuat momentum ini lewat program Desa Berdaya yang menyasar 106 desa miskin ekstrem, dengan tahap awal 2026 menjangkau 40 desa dan lebih dari 7.250 keluarga.
Investasi yang benar-benar berakar adalah investasi yang menciptakan kegiatan ekonomi di sekitarnya, menghidupkan petani, nelayan, peternak, koperasi, dan pelaku usaha transportasi lokal, bukan hanya kawasan industri yang terpagar.
Investasi Tidak Otomatis Menjadi Kesejahteraan
Namun kejujuran juga perlu ditegakkan. Investasi besar tidak otomatis menghasilkan manfaat yang merata. Konsentrasi investasi masih tebal di satu sektor dan satu wilayah, Sumbawa Barat menyumbang lebih dari sepertiga total realisasi investasi NTB pada semester I 2026, didominasi sektor tambang. Keterampilan tenaga kerja lokal belum selalu sesuai kebutuhan industri, pemasok lokal belum sepenuhnya siap, dan hilirisasi komoditas unggulan seperti rumput laut baru pada tahap awal. Ini bukan alasan untuk menyangkal capaian, melainkan pekerjaan tahap kedua setelah keberhasilan menarik investasi tahap pertama.
Pemerintah sebagai Pengungkit
Tahap pertama tugas pemerintah adalah membuka pintu: menyederhanakan layanan, membangun infrastruktur, memberi kepastian usaha. Tahap berikutnya adalah mengarahkan kualitas investasi — memperkuat hilirisasi, menyiapkan tenaga kerja, membangun pemasok lokal, menghubungkan UMKM ke rantai pasok, dan memastikan manfaat ekonomi menyebar hingga ke desa. Pemerintah tidak cukup hanya membuat investasi datang; tugas berikutnya adalah membuat investasi semakin berakar. Dan memanen bukan pekerjaan pemerintah sendirian — investor membawa modal dan teknologi, perguruan tinggi menyiapkan kompetensi, UMKM menaikkan standar, tenaga kerja meningkatkan keterampilan, sementara masyarakat menjaga iklim usaha tetap kondusif.
Saatnya Memanen
NTB telah membuktikan kemampuannya menarik modal. Realisasi Rp33,73 triliun dalam enam bulan, pertumbuhan ekonomi dua digit, dan penurunan kemiskinan yang konsisten adalah modal besar yang tidak boleh disia-siakan. Tantangan sekarang adalah membuat modal itu berakar, tumbuh, dan menghasilkan lebih banyak buah bagi daerah — bukan hanya proyek baru, tetapi pekerjaan berkualitas, UMKM yang naik kelas, industri pengolahan, pemasok lokal, ekspor bernilai tambah, dan ekonomi yang semakin beragam.
Investasi yang baik bukan sekadar investasi yang datang. Investasi yang baik meninggalkan kemampuan baru bagi daerah yang menerimanya. Karena itu, setelah berhasil menarik investasi, kini saatnya NTB memanennya.

Baca Juga  Duel Pelajar MI Bikin Heboh, Kakanmenag Klaim Sudah Berdamai

Sumber data: DPMPTSP Provinsi NTB (realisasi investasi Semester I 2026); Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTB (pertumbuhan ekonomi, kemiskinan, ketenagakerjaan, produksi padi); Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTB (serapan tenaga kerja smelter Amman Mineral); Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi NTB (hilirisasi komoditas kelautan); Kementerian Perindustrian RI (komposisi ekspor rumput laut nasional); pemberitaan ANTARA News, RRI, Inside Lombok, Suara NTB, dan situs resmi ntbprov.go.id (Agustus 2026).

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.