Kisah Muhnim Ojek Wanita, Semua Ini Demi Keluarga

oleh -2109 Dilihat
FOTO ANIS PRABOWO JURNALIS KORANLOMBOK.ID Muhnim seorang tukang ojek wanita di wisata Air Terjun Benang Kelambu, Senin (1/1/2024).

Muhnim, 35 tahun merupakan seorang ojek wanita. Dia selama ini menjalankan aktivitasnya menjadi tukang ojek di wisata Air Terjun Benang Stokel dan Benang Kelambu, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah. Ia terpaksa melakukan ini semua untuk menghidupkan tiga orang anaknya. Berikut hasil wawancara jurnalis Koranlombok.id.

 

…………………………………

 

SEPEDA motor terlihat parkir rapi di pintu masuk menuju wisata Air Terjun Benang Kelambu. Sementara sejumlah pria terlihat sibuk menawarkan jasa ojek kepada pengunjung agar bisa turun sampai ke parkiran Air Terjun Benang Kelambu tanpa berjalan kaki.

Di balik itu semua tidak ada yang menyangka ada sosok tukang ojek wanita di sana. Sebut saja Muhnim, 35 tahun namanya. Ia merupakan warga Desa Aik Berik, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah. Terlihat dia juga sedang sibuk menawarkan jasa ojek kepada para pengunjung. Wanita tiga anak ini sudah kurang lebih satu tahun lamanya menjalankan profesi baru tersebut.

Baca Juga  Ini Alasan Kades Jelantik Tidak Ikut Kunker ke Batam

Muhnim terpaksa menggeluti dunia ini untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarga di rumah. Lebih-lebih pasca mendapat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena pandemi covid-19 di perusahaan air minum, ia tidak tahu harus bekerja apa untuk menghidupi tiga orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Pada musim liburan kemarin, dia baru membawa satu orang penumpang, meskipun saat itu wisata Benang Stokel tengah ramai dikunjungi wisatawan.

“Ramai hari biasa karena banyak yang pakai ojek apalagi pengunjung dari Singapura, Malaysia, Jakarta dan Surabaya. Kalau yang lokal lebih pilih jalan kaki,” tuturnya kepada jurnalis koranlombok.id, Senin (1/1/2024).

Baca Juga  Kopdes Merah Putih Diresmikan Prabowo, Baru Dua Ada Progres di Lombok Tengah

Selama menjadi tukang ojek, dirinya keluar rumah dari pagi hari. Kemudian siang kadang sore hari jika dianggap sepi baru pulang dan dilanjutkan aktivitas lain.

 

Tidak ia tutupi salah satunya mencari pakan ternak. Karena kebetulan dia memelihara sapi yang dijadikan modal sekolah bagi anak-anaknya kedepan. Ia terpaksa melakukan ini sendiri karena sang suami masih merantau ke luar daerah.

Muhnim menceritakan, saat puncak musim libur seperti tahun baru ini, para ojek di sana memasang tarif sebesar 30 ribu. Ini hitungan biaya antar jemput. Namun saat tidak ramai pengunjung dikenakan biaya Rp 35 ribu.

“Diskon karena tahun baru, untuk sekali antar Rp 15 ribu. Tapi ada yang kita setor 5 ribu untuk dimasukan ke kas,” tuturnya.

Baca Juga  2 Ribu Paket Bantuan Alat Sekolah untuk Tiga Desa Lingkar Bandara Lombok

Sementara itu meskipun akses jalan dari Benang Stokel ke Benang Kelambu licin dan berlubang, ia mengaku sudah biasa dengan medan ini. Bahkan pengakuannya tidak pernah jatuh atau mengalami kecelakaan.

Tapi parahnya kata dia, ketika pengunjung yang dibawa seorang bule. Ia mengaku agak kesulitan karena terhalang masalah bahasa.

“Kalau bule nggak bisa diam, apalagi ana-anak,” katanya bercerita.

 

Momen paling bahagiannya pada saat menerima uang tip dari wisatawan. Biasanya paling sering memberikan wisatawan mancanegara, mereka banyak memberikan uang asing.

“Ya kadang dapat 10 ringgit, sekitar Rp 30 ribuan,” pungkasnya. (nis)

Tentang Penulis: Redaksi Koranlombok

Gambar Gravatar
Koranlombok media online dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koranlombok selalu menayangkan berita Penting, Unik dan Menarik untuk dibaca.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.