LOMBOK – Kendati di Kabupaten Lombok Tengah memiliki dua bendungan besar yakni, Bendungan Batujai dan Pengga. Akan tetapi dikatakan Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Lombok Tengah, M. Kamrin pembagian air dari kedua sumber tersebut untuk lahan pertanian di selatan masih minim.
Maka dengan itu, Kamrin akan mendorong agar Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I untuk mengevaluasi sistem pembagian air agar disesuaikan dengan kondisi areal pertanian Lombok Tengah saat ini.
“Sekarang kita minta pola ini diubah, jadwal itu disesuaikan dengan kebutuhan lahan areal yang ingin diairi baru kita bisa menjawab ada target yang ingin kita capai dengan sistem irigasi itu,” ungkapnya kepada media, Rabu (9/4/2025).
Menurut dia, perlu harus benar-benar dikaji oleh BWS NT I mulai berapa jumlah debit air sampai dengan berapa kecepatan air sampai dengan wilayah paling hilir di sebelah selatan seperti, Kecamatan Pujut yang memiliki luas areal tanam padi sampai dengan 10 ribu hektare.
Sementara itu saat ini, pihaknya masih belum mendapatkan kesempatan mendiskusikan hal ini lebih lanjut dengan pihak BWS NT I, sedangkan usulan untuk mengevaluasi jadwal pembagian air ini pada panen raya serentak di Desa Teruwai, Kecamatan Pujut beberapa hari lalu telah disampaikan Bupati Lalu Pathul Bahri dan Gubernur NTB, Lalu Muhammad Iqbal.
“Harus ada hitungannya semua itu baru namanya sistem irigasi yang komperhensif, ayo kita buka pikiran kita untuk bagaimana membedah persoalan ini supaya ada solusi yang kita berikan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu saat ini indeks pertanaman (IP) Lombok Tengah baru diangka 1,7 dan saat ini Kementerian Pertanian mendorong agar potensi lahan dapat digenjot sampai dengan IP 4 atau dapat empat kali panen dalam satu tahun.
Ditambahkannya, potensi pertanian di Lombok Tengah jika saluran irigasi dapat dimaksimalkan untuk menjangkau 20 ribu hektare lahan wilayah Kecamatan Pujut, Praya Timur, Praya Barat dan Praya Barat Daya serta sebagian kecil di Praya Tengah dan Janapria bisa menambah lagi surplus hasil panen.
“20 ribu hektare hanya bisa sekali dipanen karena tidak terjangkau sistem irigasi dan hanya mengandalkan tadah hujan,” yakinnya.
Diklaim Kadistan, luas areal pertanian Lombok Tengah 52.459 hektare dan yang masuk dalam rencana tanam sebesar 97 ribu hektare.
Untuk musim tanam pertama pihaknya menargetkan produksi padi sekitar 5,7 ton per hektare, kemudian realisasi dari bulan Oktober sampai April gabah kering yang dihasilkan sebanyak 237.460 ton atau jika dikonversi sebagai beras 135.245 ton.
“Masih ada puluhan ribu hektar yang belum dipanen sehingga kalau bicara soal produksi beras dengan konsumsi masyarakat sekitar 44 ribu ton sedangkan produksi kita 135 ribu ton artinya sudah surplus 90.762 ton sampai april kemarin,” yakinnya lagi.(nis)





