LOMBOK – Komisi IV DPRD Lombok Tengah merespons cepat dengan memanggil Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) H. Amir dan pejabat Dikbud setempat. PGRI dan Dikbud dipanggil dalam rangka meminta klarifikasi atas statement di media massa soal data 15 ribu anak putus sekolah.
Dari permintaan klarifikasi dilakukan Komisi IV yang turut dihadiri dua unsur Wakil Ketua DPRD Lombok Tengah, para wakil rakyat dibuat heran. Pasalnya, ketua PGRI tidak bisa memberikan data soal 15 ribu anak putus sekolah di Lombok Tengah.
“Komen ketua PGRI 15 ribu anak putus sekolah di Loteng, baik jenjang SD, SMP bahkan SMA itu pihak PGRI tidak bisa tunjukkan data kepada kami,” ungkap Wakil Ketua Komisi IV DPRD Lombok Tengah Wirman Hamzani kepada Koranlombok.id, Rabu (9/4/2025).
Hamzan menyampaikan, PGRI dan Dikbud dipanggil pada momen perdana rapat pasca libur lebaran. Kata Hamzan, pemanggilan dilakukan DPRD sekaligus rapat dengar pendapat.
“Kami akan kembali panggil mereka dalam rapat dengar pendapat lagi, karena kemarin tidak bisa menunjukkan data kepada dewan,” katanya.
Dalam pertemuan itu, Hamzan mengungkapkan jawaban ketua PGRI soal pertanyaan Komisi IV seputar data 15 ribu anak putus sekolah.
“Alasan tidak ada data, katanya PGRI dapat informasi dari wakil bupati. Kok bisa begini jadinya,” tegasnya.
Menindaklanjuti jawaban dari ketua PGRI, Komisi IV bersama pimpinan dewan akan menjadwalkan kembali rapat dengar pendapat sekaligus meminta dihadirkan Wakil Bupati Lombok Tengah H.M Nursiah.
“Biar ini jelas, kami panggil pak Wabup agar kami tahu dimana sumber sebenarnya soal angka anak putus sekolah. Karena sekarang itu bias di tengah masyarakat,” bebernya.
Ketua PGRI Lombok Tengah H. Amir yang dikonfirmasi membenarkan dirinya atas nama PGRI telah dipanggil dewan soal statementnya di media massa.
“Ngggih dinda,” jawab Amir via wa, tadi malam.
Buntut pemanggilan dilakukan Komisi IV DPRD Lombok Tengah, Amir terkesan irit merespons setiap pertanyaan jurnalis Koranlombok. Ia berdalih data riil berada di Sekretaris Dikbud.
“Tadi juga sama-sama dipanggil Komisi IV,” pungkasnya.
Sebelumnya di media Amir menyampaikan jumlah anak putus sekolah cukup tinggi. Jika dikalkulasikan dari semua jenjang pendidikan, ada 15 ribu lebih anak usia sekolah yang mengalami putus sekolah. Dengan alasan terbanyak faktor ekonomi.
“Angka putus sekolah kita cukup memprihatinkan mencapai 15 ribu lebih,” kata Amir, Selasa (1/4/2025).
Mirisnya, banyak anak putus sekolah yang tinggal di sekitar destinasi wisata Lombok Tengah. parahnya sampai ada yang menjurus ke eksploitasi anak. Kata Amir, banyak anak-anak usia sekolah tidak melanjutkan pendidikan, karena memilih bekerja di destinasi wisata. Ironisnya, hal ini didukung oleh penuh oleh orang tuanya.
“Ini fenomena yang terjadi sekarang,” sebut dia.(red)