LOMBOK – Penghentian pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG) di MIN 1 Lombok Tengah disebabkan anggaran dipotong pemerintah pusat. Hal ini disampaikan pihak CV Dapur Pinang Selatan.
Kepala CV Dapur Pinang Selatan, Muhamad Arik Nugraha mengungkapkan, pihaknya telah mendistribusikan program MBG di SMPN 2 Praya, SMAN 1 Praya dan MIN 1 Lombok Tengah. Tapi, setelah berjalan beberapa minggu pihaknya terpaksa harus mengurangi jumlah pendistribusian. Hal ini disebabkan adanya surat edaran dari pemerintah pusat yang berisi pemangkasan atau pengurangan anggaran untuk program MBG.
Diceritakannya, salah satu sekolah yang kena imbas dari pemangkasan ini MIN 1 Lombok Tengah. Dimana pendistribusian yang sudah berjalan sekitar 1 minggu lebih dari 22 Agustus sampai 1 September 2025.
Dijelaskan Muhamad Arik Nugraha, terkait dengan pemberhentian pendistribusian di MIN 1 Lombok Tengah. Awalnya, pihak dapur mendistribusi 3.500 MBG ke setiap sekolah yang sudah ada kontrak. Dimana ini sudah berjalan satu minggu, kemudian terbit surat edaran dari pusat terkait pemerataan bahwa setiap dapur menerima 3.000 kemudian dalam 3.000 itu harus masuk data posyandu minimal 10 persen.
“Jadi kita harus kurangi 800 akhirnya harus kita hentikan dulu sementara dan ini pusat yang menentukan berapa sasaran kita, Insyaallah ketika nanti akan lanjut 4.000 baru kita bisa masukan,” ungkapnya kepada Koranlombok.id, Rabu 10 September 2025.
Kemudian untuk MIN 1 Lombok Tengah, Muhamad Arik Nugraha mengatakan pihaknya memilih MIN karena jumlah yang paling banyak di antara sekolah lain.
“Kalau kita hapus SMP masih kurang jadinya lebih 3000 dan kalau kita hapus SMA itu jumlah sekitar 1500 terlalu banyak dan MIN ini yang paling pas, tidak terlalu banyak tidak terlalu kurang ya MIN makanya kita pilih dulu,” jelas dia.
Untuk MIN 1 Lombok Tengah ditegaskannya baru berjalan enam hari pendistribusian. Sementara harga per omprengan itu bervariasi mulai dari kelas 3 ke bawah itu 8 ribu dan Kelas 4 sampai SMA itu 10 ribu sesuai aturan yang dari pusat.
Ditambahkannya, kendala memang belum ada anggaran yang keluar. Sebab, sekarang anggaran yang keluar hanya untuk 3.000 porsi.
Dibeberkannya, dana operasional per dua minggu untuk 10 hari. Sedangkan waktu operasional selama 6 hari dan dana keluar namun masuk ke akun virtual dan tidak bisa diotakatik akun virtual. Sementara anggaran Rp 450 juta dengan pengeluaran per hari Rp 44 juta yang 3.000 porsi termasuk biaya sewa dan operasional.
Untuk sekarang pendistribusian MBG di dapurnya mencakup beberapa sekolah. Di antaranya, SMPN 2 Praya, SMAN 1 Praya, SDN Tiwu Asem, dan Ponpes Nurul Hidayah yang terdiri dari RA, MI, dan MTS.
“Jika ada dapur pasti berlanjut dan kita sarankan juga untuk mencari dapur lain karena aturan hanya 3000 tapi memang akan bertambah seiring dengan waktu dan kesiapan dari dapurnya,” pungkasnya.(hil)





