LOMBOK – Kondisi SDN 1 Sengkol di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mengalami rusak parah. Plafon ruang kelas IV, V dan VI rusak disebabkan bangunan atap yang keropos.
Ketua DPRD Lombok Tengah, Lalu Ramdan berjanji akan melihat langsung dan berdiskusi dengan para guru dan kepala sekolah. Katanya, jika dikategorikan dalam kondisi rusak berat bakal dimasukkan sebagai prioritasnya.
Kata Ramdan, kondisi SDN 1 Sengkol bisa saja diberikan bantuan perbaikan melalui dana pokok pikiran dewan. Akan tetapi dirinya menginginkan solusi untuk setiap fasilitas pendidikan negeri di Lombok Tengah dapat diatasi secara keseluruhan, sistematis dan dengan perencanaan yang utuh dan berkesinambungan serta mengutamakan skala prioritas.
Ditegaskan Ramdan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan perlu membuat data yang valid soal kondisi setiap sekolah di tingkat SD dan SMP. Sebab, seringkali sekolah yang dalam kondisi rusak berat tidak mendapatkan dana perbaikan dan anggaran justru diarahkan kepada sekolah yang rusak sedang.
“Insyaallah kita akan panggil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyampaikan kepada kita semua tentang data sekolah yang ada, terkait mana sekolah kita yang rusak berat, sedang dan mana yang sudah bagus, kalau sudah ada nanti saat penganggaran kita arahkan untuk menyelsaikan yang rusak berat,” tegasnya di kantor DPRD Lombok Tengah, Kamis (10/7/2025).
Sementara itu pihaknya melalui Komisi IV telah meminta Dikbud membuat data yang valid terkait kondisi sekolah yang ada pada setiap rapat dengar pendapat di DPRD. Nantinya melalui Komisi IV akan diminta untuk turun melihat kondisi real sejumlah fasilitas pendidikan setingkat SD dan SMP.
“Nanti saya minta Komisi IV croscheck untuk turun sesuai data tersebut, ini kan tidak hanya sekolah tua tapi juga ada di kecamatan dan jalan pariwisata tetapi kan tidak hanya itu namanya pendidikan dimanapun bahkan di pelosok juga harus jadi prioritas,” tegasnya lagi.
Sementara itu, Kepala SDN 1 Sengkol, Baiq Rahulan mengatakan disebabkan kondisi sekolah rusak parah siswa juga berkurang. Pada tahun ajaran baru, pihaknya hanya mendapatkan 12 orang siswa. Sebelumnya pada tahun lalu jumlah keseluruhan siswa 84 siswa dan yang keluar 13 orang.
“Banyak orangtua yang memilih sekolahkan anaknya di tempat lebih jauh, ya karena kondisi sekolah seperti ini,” katanya.
“Ini dibangun tahun 1926 tahun depan sudah 100 tahun sekolah, tapi kondisinya seperti itu atapnya juga sudah bocor dan kayunya juga sudah lapuk,” keluhnya kepada awak media, Kamis (10/7/2025).
Selain itu kondisi toilet sekolah juga telah lama tak bisa digunakan. Para siswa sering meminta izin pulang atau menumpang di toilet masjid sekitar. Sementara bantuan terakhir yang pernah diterima oleh sekolah pada tahun 2010.
Kepala sekolah mengaku sempat berharap mendapatkan Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk perbaikan fasilitas dan gedung sekolah, namun hingga saat ini belum ada.(nis)





