LOMBOK – Gegara diprank oknum panitia festival olahraga masyarakat nasional (Fornas) 2025. Pelaku usaha transportasi lokal akan melakukan aksi demo, Senin (21/7/2025) pagi ini di depan pintu keluar dan masuk Bandara Internasional Lombok.
Sebelumnya pada Jumat sore pekan lalu, sejumlah pelaku usaha transportasi lokal melakukan aksi penolakan NTB menjadi tuan rumah Fornas 2025. Mereka aksi di area penjemputan penumpang di Bandara Internasional Lombok.
Dalam aksinya, pelaku transportasi membawa spanduk penolakan Fornas 2025 di NTB. Ada juga spanduk bertulis meminta dilibatkan pelaku transportasi lingkar bandara pada semua event pemerintah.
“Hari ini juga akan kami turun aksi, kalau Jumat sore itu di dalam teman-teman aksi,” ungkap Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Lombok Tengah, H.Lalu Basir kepada Koranlombok, tadi malam.
Disampaikan Basir, untuk aksi hari ini jam 9 akan dilakukan oleh lima pelaku usaha transportasi lokal lingkar bandara. Mereka aksi karena merasa kesal dengan ulah oknum panitia Fornas.
“Kami meminta panitia Fornas berikan kami peran dan libatkan kami,” tegasnya.
Dikatakan Basir, ada lima lembaga yang dibohongi oknum panitia Fornas. Ada BIL lokal transport, Koperasi KSU Mandalika, KSU, Darma Lestari, Rinjani dan Koperasi Lombok Baru.
Dijelaskan dia, aksi ini akan dilakukan buntut dari janji palsu diberikan oknum panitia. Saat itu panitia meminta kepada pihaknya untuk menyiapkan 100 unit Avanza kebutuhan event Fornas 2025. Setelah itu menyusul draf juga dikirim panitia kepada pihaknya dan hanya tiga hari apa diminta panitia dipenuhi. Lanjut cerita, kata Basir, pihaknya kemudian menyerahkan proposal ke panitia namun di sana tiba-tiba disampaikan tidak ada kebutuhan kendaraan untuk Fornas. Di lokasi mereka kemudian marah besar karena merasa dibohongi.
“Makanya sekarang kami minta mereka yang menjelaskan ke lapangan,” pintanya.
Basir curiga ini ada permainan. Sebab, saat mengetahui pihaknya marah dan akan melakukan aksi. Oknum panitia kembali memberikan tawaran menyiapkan 30 unit kendaraan, bukan 100 unit. Negosiasi pun berlangsung di Mataram namun tidak menemukan titik terang.
“Dari 230 unit, turun ke 17, 20 dan dari 30 turun lagi menjadi 29 saat negosiasi. Kami curiga barang ini ada cuma dipermainkan,” yakinnya.(red)






